JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali Banjir, Penambang Pasir Panen

Banjir, Penambang Pasir Panen

319
BAGIKAN
Penambang Pasir Panen
Penambang Pasir Panen

BOYOLALI – Curah hujan tinggi yang menyebabkan sungai-sungai yang berhulu di puncak Merapi banjir, selain mengakibatkan bencana juga membuat para penambang pasir panen. Meski demikian, para penambang harus ekstra waspada agar tidak menjadi korban lahar dingin saat menambang.

Jumani (43), penambang pasir di Sungai Gandul, Dukuh Watugajah, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo mengatakan hujan deras yang sering menyebabkan banjir belakangan ini cukup membawa berkah karena pasir di Sungai Gandul. “Soalnya kalau kemarau airnya tidak mengalir, saat musim hujan seperti ini pasirnya melimpah karena terbawa banjir,” tutur dia akhir pekan kemarin.

Melimpahnya pasir dan batu di sungai membuat warga banyak yang menjadi penambang musiman. Sehingga jumlah penambang pasir  tradisional terutama di sepanjang Sungai Gandul pun saat ini meningkat mencapai puluhan orang.Menurut Sutarji (41), saat musim penghujan seperti ini, jumlah penambang di tempatnya mencapai 30-an orang. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan saat musim kemarau.

Menurut Sutarji, setiap hari saat musim penghujan seperti ini, rata-rata penambang dapat mengumpulkan pasir sekitar 1,5 kubik. Pasir tersebut kemudian dijual sekitar Rp 60.000, setelah dipotong biaya buruh yang menaikan ke kendaraan. Meski hasil menambang pasir kecil, namun menurut Jumani tidak menjadi masalah, mengingat pekerjaan tersebut sudah menjadi tradisi terutama saat musim penghujan. Biasanya, sesama penambang saling bergantian, termasuk menjadi buruh pengusung.

Meski demikian Jumani juga mengakui banjir yang sering terjadi di sungai selain membawa rezeki pasir yang melimpah, juga mengancam keselamatan jiwa. Namun menurutnya, para penambang sudah hafal jika mendung tebal terlihat di lereng atau puncak Merapi, mereka biasanya segera pulang dan baru menambang keesokan harinya saat terang.

Ario Bhawono