JOGLOSEMAR.CO Hiburan Selebritis Bedhaya Kakung Ungkap Kehancuran Manusia

Bedhaya Kakung Ungkap Kehancuran Manusia

951
BAGIKAN
TARI BEDHOYO KAKUNG-Sejumlah penari tengah menarikan tari Bedhoyo Kakung saat peresmian Sanggar Ismoro Jati Sumirat di Balai Agung Jumantoro, Kemlayan, Serengan, Solo, Senin (25/2) malam. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni
TARI BEDHOYO KAKUNG-Sejumlah penari tengah menarikan tari Bedhoyo Kakung saat peresmian Sanggar Ismoro Jati Sumirat di Balai Agung Jumantoro, Kemlayan, Serengan, Solo, Senin (25/2) malam. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Tiga orang laki – laki tampak menari dengan gerak alusan. Penari ini mengenakan desain busana yang menjadi ciri khas Bedhaya, kain dodot dengan selendang. Setelah beberapa waktu penari itu duduk terdiam bersama iringan musik karawitan. Mereka kemudian bergerak penuh dengan kelembutan layaknya tarian sakral Bedhaya.

Lantas ketiga penari itu kemudian turun dengan disertai 11 penari wanita lainnya dengan gerak kalem.  Turunnya ketiga penari laki – laki ini menggambarkan sosok Dewa yang turun dari langit. Sesuai dalam mitologi pewayangan, ketiga dewa tersebut Dewa Ismoyo, Dewa Wisnu dan Dewa Indra.

Tiba-tiba  iringan musik karawitan dengan alunan tembang berubah menjadi rancak. Menyimbolkan kekalutan, gejolak dan ontran-ontran, repertoar ini memperlihatkan kehancuran manusia. Ontran-ontran ini mulai mereda seiring dengan alunan musik yang lembut dengan gerak para 11 penari yang menyebarkan bunga sebagai simbol memohon welas asih Sang Pencipta.

Lantas 11 penari mengambil lentera api yang mengelilingi ketiga Dewa. Api sebagai simbol terang ini pun menutup tari Bedhaya Kakung Wahyu Eko Buwono yang dibawakan oleh penari senior Sri Wardoyo, Wasi Bantolo dan Bambang Suryono Saat peresmian sanggar Seni Ismoyo Jati Dirgantara, yang berlangsung di Balai Agung Jumantoro, Senin (25/2) kemarin.

Ketiga penari kenamaan asal Solo ini memang ingin berinterpretasi mengenai tarian sakral Bedhaya. Jika biasanya, penari utamanya adalah perempuan atau laki-laki, maka tarian ini pun mengolaborasikan penari perempuan dan  laki-laki. Begitu pula dengan iringan musik yang digunakan, ingin memperlihatkan musik Jawa klasik berkelas. Tarian berdurasi 30 menit ini memadukan musik karawitan dengan gesekan biola dan saksofon.

Memanfaatkan Asrama

Dengan perpaduan eksplorasi musik dan gerak Jawa alusan,  pertunjukan Bedhaya Kakung ini terlihat berkelas. Orang awam pun akan merasa menikmati pentas tari tersebut. Para penari ingin memberikan pandangan anyar tentang Bedhaya yang biasanya dihadirkan untuk acara tertentu. Namun penari ini menghadirkan tarian Bedhaya sebagai ungkapan refleksi kehidupan.

“Tarian ini ingin menggambarkan bagaimana kehidupan bumi yang sudah di rusak oleh manusia itu sendiri. Namun ketika manusia sadar dan insyaf akan kesalahannya, manusia itu lahir kembali, “ ucap Sri Wardoyo salah satu penari.

Kol. Pnb. Kusworo SE, MM, pelindung satu Sanggar Seni Ismoyo Jati Dirgantara mengatakan terbentuknya sanggar ini karena ingin lebih memaksimalkan lokasi yang ada. Balai Agung Jumantoro juga menjadi bagian mess (asrama) TNI AU yang memiliki luas kurang lebih 8.086 m2. Kawasan ini kerap diangkat menjadi area cagar budaya.

“Sanggar ini bukan hanya untuk melatih anggota TNI AU saja, melainkan seluruh masyarakat boleh bergabung dan boleh memanfaatkan lahan seluas ini,” ujarnya. Raditya Erwiyanto