BNN Teliti Tanaman Pembuat Chatinone

BNN Teliti Tanaman Pembuat Chatinone

354
Catha edulis / Wikipedia

JAKARTA—Badan Narkotika Nasional (BNN) meneliti tanaman mirip Gath atau Khat yang tumbuh subur di Puncak, Cisarua, Bogor. Belum bisa dipastikan apakah tanaman itu benar-benar bahan pembuat narkotika jenis chatinone atau bukan. “Masih diproses di laboratorium. Kami juga masih menunggu hasilnya,” kata Kepala Humas BNN, Kombes Pol Sumirat Dwiyanto, Minggu (3/2).

Tanaman mirip Ghat atau dalam bahasa Latin disebut Catha Edulis, tumbuh subur di kawasan Puncak, terutama di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Bogor.

Sumirat mengaku belum mengetahui butuh waktu berapa lama pihak laboratorium untuk memastikan tanaman itu Ghat atau bukan. Yang jelas, katanya, pihaknya sudah mengambil sampel tanaman itu, Sabtu (2/2) lalu.

Mengenai kemiripan fisik Ghat dengan tanaman yang tumbuh di kawasan Puncak, Sumirat juga belum mengetahui. “Ada tim yang datang ke sana dan mengambil sampel. Semuanya langsung dicek di laboratorium, saya tidak melihatnya secara langsung,” tutupnya.

Tanaman mirip Ghat atau dalam bahasa Latin disebut Catha Edulis, tumbuh subur di kawasan Puncak, terutama di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Bogor. Menurut warga, tanaman itu dibawa oleh turis asal Timur Tengah 10 tahun lalu. Oleh turis yang akhirnya menetap di kawasan setempat, pucuk daun tanaman tersebut digunakan sebagai lalapan usai makan daging kambing. Fungsinya untuk menurunkan lemak dan obat diabetes. Karena bernilai ekonomi, warga ikut-ikutan menanamnya di kebun atau pekarangan rumah hingga kini.

Polisi sudah mengecek tanaman tersebut, tapi belum bisa memastikan apakah itu Ghat atau bukan. Sebagian warga khawatir berurusan dengan hukum jika benar tanaman itu merupakan bahan pembuat chatinone. Warga pun mencabuti tanaman tersebut.

Chatinone atau dalam bahasa Indonesia disebut katinona digolongkan sebagai narkotika golongan I yang hanya boleh dipakai untuk keperluan riset. Namun belakangan, sejak Raffi Ahmad, zat ini disebut-sebut disalahgunakan pihak-pihak tertentu.

Sementara itu, Komisioner Komnas Perempuan, Andy Yentriyani meminta media massa menghentikan pemberitaan mahasiswi cantik yang ikut ditangkap KPK saat operasi tangkap kasus suap impor daging di Hotel Le Meredien. “Komnas Perempuan meminta media untuk hentikan pemberitaan media yang eksploitatif atas mahasiswi M terkait dugaan suap mantan Presiden PKS,” kata Andy.

Andy juga menyesalkan identitas perempuan berambut panjang yang diungkap oleh media terkait dugaan gratifikasi seksual. Karena ia menduga Maharani bisa saja menjadi korban trafficking. “Media mestinya tidak mengungkap identitasnya dan sensitif bahwa dia bisa jadi korban, terutama trafficking untuk kepentingan gratifikasi seksual. Pemberitaan serupa ini juga dapat menempatkannya kehilangan masa depan karena moralitasnya dihakimi oleh publik,” tegasnya.

Detik | Okezone

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR