JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo BST Rugi Puluhan Juta

BST Rugi Puluhan Juta

264

010213-BUD-HARIAN-SOLO4-KONSORSIUM BST 1BALAIKOTA-Pengelolaan Batik Solo Trans (BST) oleh Damri merugi puluhan juta rupiah saban bulannya. Damri juga mengaku kesulitan mengelola BST untuk koridor I.

Kepala Perum Damri Solo, Sutaryadi, saban bulan pengelolaan BST meraup pendapatan antara Rp 200 juta hingga Rp 225 juta. Namun, dalam sebulan pula pihaknya mengeluarkan biaya minimal Rp 250 juta untuk merawat 15 armada BST. ”Dengan pendapatan tersebut, Perum Damri masih merugi,” katanya, Senin(25/2).

Tarif yang dikenakan ke penumpang umum BST, sebesar Rp 3.500. Sedangkan untuk pelajar diberi diskon 50 persennya. Dia enggan merinci, berapa kali dalam setahun BST ngadat.

Sedangkan kesulitan perawatan BST yang dikeluhkan Damri, karena armada BST di koridor I itu bermerek Hyundai. ”Jika rusak, sulit cari suku cadangnya di Indonesia,” ujarnya. ”Jadi kalau mengalami kerusakan terpaksa diakali dan diperbaiki sendiri. Itu butuh waktu lama dari perbaikan bus biasa.”

Kata Sutaryadi, meskipun  BST koridor I hasil kerja sama Pemkot Solo dan Perum Damri, namun untuk biaya perawatan armadanya, jadi tanggung jawab Damri sebagai operatornya.

Kendati demikian, dia mengakui, ada peningkatan dalam pengelolaan BST. Salah satunya dari load factor atau tingkat keterisian penumpang. Rata-rata saban hari load factor bisa mencapai 24 penumpang/armada/rute. ”Namun jumlah pendapatannya belum sepadan dengan tingginya biaya perawatan,” imbuh dia.

”Melihat antara pemasukan dan pengeluaran sangat tidak seiambang. Tapi, karena ini sebagai pelayanan publik, trasportasi tetap terus dijalankan, apapun resikonya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Pemkot Solo, Yosca Herman Soedrajad, mengatakan, tahun ini APBD 2013 menganggarkan Rp 6 miliar untuk pengadaan 10 armada BST. Untuk armada baru itu, tidak lagi memilih merek Hyundai.

”Alasan tidak membeli bus merek Hyundai lagi, karena biaya perawatanya sangat tinggi dan suku cadangnya sulit dicari di Indonesia,” ucapnya.

Yosca menambahkan, selama ini pihaknya juga kesulitan merawat bus itu. Terlebih di Solo tidak ada dealer resmi Hyundai. Sehingga terpaksa dibawa ke Jakarta.”Karena tak ingin citra BST sebagai alat trasportasi massal jelek, pengadaan bus baru nanti akan memilih bus yang lebih bagus,” paparnya. Muhammad Ismail

BAGIKAN