JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Bubarkan PSSI dan KPSI

Bubarkan PSSI dan KPSI

207
BAGIKAN

Suporter Tak Yakini Kongres

Rekonsiliasi Sepakbola Indonesia
Rekonsiliasi Sepakbola Indonesia. (ant)

SOLO – Berbagai elemen dan kelompok suporter sepakbola Indonesia merasa pesimis jika kongres yang dicetuskan Menpora Roy Suryo tanggal 17 Maret nanti bakal menyelesaikan kisruh sepakbola Indonesia. Pasalnya dari kacamata suporter, kongres yang diusulkan merupakan ulangan dari kongres yang sudah-sudah.

Pasalnya sejak Kongres di Malang tahun 2010 lalu, tercatat sudah ada 11 kongres yang dilakukan baik oleh PSSI maupun KPSI. Akan tetapi, kongres yang seharusnya menjadi pertemuan kedua belah pihak sering diingkari oleh masing-masing pihak. PSSI maupun KPSI tetapi ngotot dengan pendiriannya masing-masing, dan tidak mau saling berdialog dengan kepala dingin.

Salah satu nada pesimis para pecinta sepakbola Indonesia diungkapkan oleh Presiden Pasoepati, Bimo Putranto yang mengaku tidak yakin dengan rencana kongres tersebut. Menurutnya, apapun hasil dari kongres tidak ubahnya sebuah keputusan palsu. Hal tersebut tidak terlepas dari sosok siapa saja yang akan duduk dalam kongres nantinya.

“Saya bukannya pesimis, tapi realistis. Kalau masih dengan pengurus-pengurus yang lama kongres akan mubazir, karena apapun hasilnya tidak lebih dari sebuah keputusan palsu,” ungkap Bimo.

Bimo melihat, langkah yang seharusnya diambil Menpora justru adalah dengan membubarkan PSSI dan juga KPSI, serta melarang orang-orang yang saat ini ikut kembali dalan kepengurusan. “Yang dibutuhkan saat ini adalah orang-orang yang memang mau dan peduli dengan sepakbola kita. Pemerintah harus bisa tegas dan pihak yang kalah harus bisa legowo dan menghormati putusan yang sudah diambil,” tambahnya.

Hal senada juga diutarakan Wakil Ketua Umum pengurus pusat JakMania, Richard Achmad, yang meragukan kongres biasa itu bakal membuat konflik mereda. “Saya masih kurang yakin kongres akan menyelesaikan persoalan. Terlebih lagi harus ada verifikasi voter yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari PSSI, KPSI dan KOI. KOI sendiri saat ini sedang terlibat perselisihan dengan KONI terkait pengelolaan olahraga,” jelas Richard.

Sementara itu salah satu pemain senior, Kurniawan Dwi Yulianto mengaku untuk menghentikan konflik berkepanjangan maka pemerintah juga harus mendengarkan suara dari para pemain dan suporter. Pasalnya selama ini, para pemain hingga suporter yang menjadi korban atas kepentingan elit para pengurus PSSI maupun KPSI.

“Jujur, saya pribadi miris dengan keadaan sepakbola kita. Saya juga tidak tahu bagaimana cara penyelesaiannya. Bahkan kebayang pun tidak, karena kayaknya ini sudah bukan murni sepakbola,” tutur pemain yang pernah menimba ilmu di Italia itu.

Para pemain pun diminta tegas menanggapi kisruh pesepakbolaan Indonesia. Hal tersebut telah dilakukan striker Persija Jakarta, Bambang Pamungkas yang enggan membela timnya sebelum gajinya musim lalu terbayar lunas. Terlambatnya gaji pemain sendiri diakibatkan karena kisruh organisasi.

Hal berbeda diungkapkan eks anggota komite normalisasi, FX Hadi Rudyatmo yang optimis digelarnya kongres mendatang bakal mampu merampungkan konflik persepakbolaan di Indonesia. Rudy pun berharap hasil kongres mendatang dapat benar-benar terlaksana. “Pertemuan semalam kan dihadiri semua pihak, mulai dari PSSI, KPSI sampai dengan KOI pun hadir. Saya melihat dalam hal ini Menpora sudah berani ambil resiko,” ungkap Rudy saat ditemui wartawan, Selasa (19/2).

Meski yakin dengan jalannya kongres yang akan menyelesaikan dualisme dalam tubuh organisasi sepakbola Indonesia, namun Rudy tidak menampik masih ada peluang terjadi konflik selama kongres. Hal tersebut dipandang wajar dalam sebuah organisasi.

Sementara itu, Sekjen PSSI Halim Mahfudz mempertanyakan surat FIFA yang ditujukan kepada Menpora. Pasalnya usai pertemuan dengan FIFA di Tokyo Desember lalu, FIFA menyerahkan mandat kepada AFC untuk menuntaskan kisruh sepakbola di Indonesia. Halim pun mengaku akan berkoordinasi dahulu dengan AFC. Agni Vidya P | Suharno | Detik