JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Dampak Flu Burung, Harga Itik Anjlok

Dampak Flu Burung, Harga Itik Anjlok

342
BAGIKAN
Ilustrasi

KLATEN – Adanya ratusan itik yang mati mendadak akibat virus flu burung (avian influensa) di Klaten Berdampak pada harga telur dan unggas di wilayah ini. Dari pantauan Joglosemar harga itik kini turun hingga Rp10.000 per ekor. Sedangkan harga telur di tingkat penetas mulai naik Rp 50 per butir.

Harga itik usia produktif dalam kondisi normal semula Rp 40.000 per ekor, namun kini turun menjadi Rp30.000 sampai Rp35.000 per ekor. Kondisi ini terjadi dalam beberapa hari terakhir. Namun untuk anak itik, harganya relatif masih stabil, yakni Rp3.000 per ekor untuk anak itik betina, dan Rp1.500 per ekor anak itik jantan. Sementara untuk harga telur itik kini berangsur naik. Dalam sepekan terakhir, harga telur itik di tingkat penetas sudah mencapai Rp1.300 per butir, sebelumnya Rp1.250 per butir.

Sudirman (38), peternak itik di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, menuturkan naiknya harga telur itik ini terjadi karena menurunnya produktivitas itik, sehingga stok telur di pasaran berkurang. “Banyak peternak itik yang bangkrut dan menjual murah unggasnya karena takut terserang flu burung. Berkurangnya peternak inilah yang menjadi faktor naiknya harga telur itik,” ujar Sudirman saat ditemui di kediamannya, Minggu (3/2).

Menurutnya, harga telur itik akan terus merangkak naik seiring. Kenaikan harga telur itik di tingkat penetas itu, tentunya akan diikuti dengan kenaikan harga di tingkat tengkulak. “Saya menjual telur itik seharga Rp1.300 per butir, dan kalau sudah sampai di pasaran harga bisa mencapai Rp1.400 – Rp1.500 per butir,” ujar Sudirman.

Sementara itu, Yatno (35) peternak itik asal Trucuk, mengaku terpaksa menjual murah unggas miliknya yang diduga terjangkit flu burung. Kepada pengepul ia menjual itiknya seharga Rp15.000 per ekor. “Ada beberapa itik yang kondisinya tidak sehat. Dari pada mati dan rugi mending saya jual saja dengan harga murah,” tuturnya.

Lantaran kondisi itu, para peternak itik berharap ada perhatian serius dari pemerintah. Salah satunya memberikan bantuan pinjaman lunak sebagai modal pemulihan usaha ternak mereka. Sebelumnya dikabarkan, petugas dari Dinas Pertanian (Dispertan) Klaten melakukan penyemprotan desinfektan terhadap kandang itik milik warga Dukuh Brongkol, Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, beberapa waktu lalu. Penyemprotan itu dilakukan menyusul laporan adanya 400 ekor itik di daerah tersebut yang mati secara mendadak akibat terjangkit virus flu burung.

Angga Purnama