Dapat Rp 3,5 M, Solo Diminta Bangun Layanan Autis

Dapat Rp 3,5 M, Solo Diminta Bangun Layanan Autis

260

autisKARANGASEM-Kota Solo dalam waktu dekat ini akan memiliki Pusat layanan Autis (PLA) setelah Pemerintah Pusat mengucurkan dana Rp 3,5 miliar untuk pembangunan fisik layanan itu.

Pemkot hanya menyediakan lahan untuk dibangun dan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM)-nya, untuk mengelola. ”Solo dapat bantuan dana Rp 3,5 miliar yang bentuknya hibah untuk membangun PLA. Dana itu hanya untuk fisiknya sedangkan lahan dan SDM itu yang disiapkan daerah,” kata Sekretaris Komisi IV DPRD Solo, Abdul Ghofar Ismail, Kamis (21/2).

Sebelum terealisasi, Komisi IV studi banding di Kota Malang. Pasalnya, di sana merupakan satu-satunya daerah yang berhasil mengelola PLA. Studi itu untuk mengetahui teknis pengelolaannya dan sumber tenaganya dari mana.

”Kemarin di sana menanyakan banyak hal tentang pusat layanan autis ini. Seperti pengamanannya itu nanti gimana, kan itu yang dididik berkebutuhan khusus. Kalau lahan itu sudah ada itu di Ngemplak Sutan, Mojosongo tapi itu letaknya terlalu jauh,” paparnya.

SDM pengelola PLA yang dibutuhkan adalah yang ahli menangani  anak-anak autis yang hiperaktif. Contohnya, petugas terapi, maupun psikolog. “Kalau di sana (Malang0 petugasnya diambilkan dari pegawai tidak tetap (PTT) maupun kontrak, sedangkan di sini belum bisa mengambil tenaga seperti itu,” katanya.

”Rekrutmen petugas itu yang masih menjadi permasalahan di Solo, karena itu, harus ada tenaga khusus.  Itu harus dipersiapkan,” imbuh dia.

Dia minta Pemkot menyiapkannya dengan matang. Jangan sampai, karena kurang SDM, layanan itu akhirnya menjadi mangkrak. ”Seharusnya Pemkot tidak asal menerima bantuan dari Pemerintah Pusat kalau memang belum siap. Target tahun 2013 ini sudah harus ada. Ini kan menggunakan APBN,” ucapnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Solo, Umar Hasyim, menyatakan keberadaan PLA ini harus dapat perhatian dari Pemkot. Untuk petugas, dia mengusulkan, bisa diambilkan dari pusat pembelajaran anak autis di Solo.

”Di Malang itu perekrutan pengajarnya berdasarkan  memorandum of understanding (MoU) Pemkot dengan Pemerintah Pusat.  Kalau di Solo bisa diambilkan dari pendidikan anak autis di sekitar Solo, kan itu banyak,” kata Umar.

Ari Welianto

 

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR