Diabetes Tetap Bisa Nikmati Makanan Manis

Diabetes Tetap Bisa Nikmati Makanan Manis

709
ilustrasi

Perayaan tahun baru Imlek baru saja berlalu. Berbagai sajian hidangan Imlek tentunya menggugah selera makan. Termasuk makanan khas yakni kue keranjang. Kue keranjang yang manis ini sangat menarik selara makan kita. Namun bagi penderita Diabetes Melitus (DM) tentu tidak boleh sembarangan mengonsumsi  kue kerajang ini. Tetapi jangan, mereka masih bisa menikmati hidangan lainnya, meskipun dengan aturan diet tertentu.

Diabetes Melitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula darah (Glukosa) akibat kekurangan hormon insulin secara absolut atau relatif. Oleh karena itu, penderita Diabetes Melitus harus sangat memperhatikan makan mereka, terutama menjauhi makanan manis. Pelaksanaan diet untuk penderita DM ini hendaknya juga disertai dengan latihan jasmani dan perubahan perilaku tentang makanan.

Manajer Instansi Gizi Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta, Anita Safar Cahyani, AMG menjelaskan, pada penderita DM dia harus bisa mempertahankan kadar gula darah supaya tetap normal dengan menyeimbangkan asupan makanan. “Sebisa mungkin makanan yang mereka konsumsi bisa menjaga supaya kadar gula darah bisa mendekati normal,” jelasnya.

Dalam memberikan menu makanan yang harus diperhatikan adalah bagaimana asupan makanan bisa mencapai dan mempertahankan kadar lipida serum normal. Asupan makanan juga harus bisa memberi energi untuk mempertahankan atau mencapai berat badan normal. Hal ini supaya penderita DM bisa terhindar dari komplikasi akut. “Menu yang disajikan juga harus bisa meningkatkan asupan gizi bagi penderita,” paparnya.

Menu makanan bagi penderita DM harus memenuhi prinsip 3J. Syarat 3J yakni meliputi jadwal makan, jumlah yang dimakan dan jenis makanan yang dikonsumsi. Penderita DM harus makan sesuai jadwal yakni tiga kali makan utama dan tiga kali makan kecil. Jarak antar makan maksimal tiga jam. “Misalnya jam 6 sarapan, maka jam 9 bisa makan snack,” katanya.

Jenis makanan penderita DM pun juga harus diatur. Penderita DM memang sebaiknya mengurangi konsumsi nasi tetapi bukan sama sekali tidak makan nasi. Dalam sehari ada porsi tertentu yang harus dipenuhi,disesuaikan dengan kebutuhan kalori setiap pasien. “Jumlah asupan nasi ini tergantung golongan diabetesnya, setiap penderita punya porsi berbeda,” terang dia.

Jenis makanan juga menentukan kecepatan naiknya kadar gula darah. Kecepatan suatu makanan dalam menaikkan kadar gula darah disebut juga indeks glikemik. Semakin cepat menaikkan kadar gula darah sehabis makan tersebut dikonsumsi, maka semakin tinggi indeks glikemik makanan tersebut. Jadi, hindari makanan yang berindeks glikemik tinggi seperti sumber karbohidrat sederhana, gula, madu, sirup, roti, mi dan lain-lain.

Sedangkan jumlahnya, menurut Nita, penderita diabetes harus memperhatikan porsi makanan yang anda konsumsi. Prinsipnya penderita diabetes harus makan adalah porsi kecil dan sering. “Adapun pembagian kalori untuk setiap kali makan dengan pola menu enam kali makan,” jelasnya.

Dijelaskannya, satu hal yang harus diketahui adalah penderita diabetes harus mengonsumsi makanan dengan kandungan karbohidrat yang tidak gampang terurai, bukan yang mengandung karbohidrat yang mudah terurai misalnya gula atau sirup. Adapun makanan yang harus dihindari oleh pengidap diabetes yaitu jenis makanan turunan tepung putih dan nasi. “dua makanan ini mengandung kadar gula yang cukup tinggi, turunan dari makanan tersebut adalah sejenis donat, roti putih, kue tart, sereal manis, nasi putih dan kentang goreng,” terang dia.

Penderita diabetes ini memang harus berhati-hati mengatur pola makannya seumur hidup. Tetapi jangan khawatir, sekarang ini sudah banyak produk-produk pemanis pengganti gula yang bisa dinikmati penderita diabetes atau mereka yang memiliki risiko tinggi. “Pemanis itu bisa dikonsumsi, tapi juga boleh berlebihan,” terang dia.

Dia menambahkan, pada prinsipnya perencanaan makan penderita DM ini sama dengan perencanaan makan orang sehat. Tetapi tetap harus sesuai dengan prinsip 3J. Selain itu, juga harus diimbangi dengan olahraga. “Jika diperlukan mengkonsumsi obat tertentu, dan yang terpenting menambah pengetahuan antara lain dengan mengikuti penyuluhan untuk penderita diabetes,” jelasnya. Tri Sulistiyani

BAGIKAN
  • Dear Tri Sulistiyani.

    Konsep 3 J seperti yang diterangkan oleh ahli gizi anda, tak bisa ditemukan dalam literatur kedokteran maupun jurnal. Setahuku konsep ini dicetuskan seorang ahli nutrisi yang juga perutnya gendut. Sulit untuk diterima nalar, ahli gizi yang menjelaskan tentang cara mengisi perut, namun perutnya besar. Tak masuk akal.

    Sudah saatnya masyarakat Joglosemar diberi penjelasan tentang nutrisi yang evidence based. Aku usulkan agar Joglosemar mengutus 1 penulisnya agar mendalami karya dokter Bernstein. Dia adalah seorang insinyur yang menderita diabetes sejak berumur 12 tahun. Sangat patuh pada nasehat kedokteran namun tubuhnya rusak karena dunia kedokteran masih mengijinkan para penderita diabetes mengasup gula maupun karbohidrat. Dia berpendapat kalau penderita diabetes kurangi makan karbo karena tubuhnya tak mampu mengolah karbo. Omongannya tak didengar orang dan dia masuk fakultas kedokteran pada umur 47 tahun.

    Prinsip makan dia adalah karbo maksimurm 6 gram sarapan, 12 gram siang, 12 gram malam. Atau rendah karbohidrat. Rendah karbo ini sudah diadopsi oleh ADA,AHA,Diabetes UK.