JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali DIANIYAYA OKNUM PNS : Badan Lumpuh Separo, Cita-cita Jadi Montir Hampir Pupus

DIANIYAYA OKNUM PNS : Badan Lumpuh Separo, Cita-cita Jadi Montir Hampir Pupus

668
BAGIKAN

Diumur usianya yang masih Muda, Angga Kurniawan (17) masih memiliki banyak mimpi yang ingin dicapainya.  Namun kini keterbatasan fisik menghambat ia meraih mimpi-mimpinya. Karena emosi, oknum tak bertanggung jawab, meninggalkan cacat di tubuhnya.

KORBAN PENGANIYAAN-Sumarmi tengah menyuapi anaknya, Angga Kurniawan (17), yang menjadi korban penganiayaan oknum PNS dan rekannya. Joglosemar|Ario Bhawono

Langkah Angga Kurniawan (17), pelajar SMK Bhineka Karya, Simo Boyolali untuk mewujudkan mimpinya menjadi montir mobil tidak akan semulus yang ia bayangkan.  Ancaman cacat seumur hidup menghantuinya.

Petaka itu terjadi akhir November tahun lalu. Saat itu, sepulang sekolah ada teman yang bermain ke rumah Angga. Pada saat yang sama, ada pengendara sepeda motor yang lewat sambil jumping. Merasa terganggu, Angga dan temannya pun menegur untuk mengingatkan. Bukanya menghentikan aksinya, pengendara yang merupakan warga Dukuh Serengan, Jaten itu malah menantang. Namun tantangan itu tidak ditanggapi oleh Angga dan temannya.

Selang tak berapa lama kemudian datang KUR, warga Karanggede dan langsung menghajar Angga. Setelah puas, mereka pun meninggalkan Angga yang terluka parah. Bahkan sore harinya, KUR kembali datang ke rumah Angga bersama dengan DAR, warga setempat yang menjadi PNS di wilayah Grobogan.  Mereka kembali memukuli Angga, yang kebetulan saat itu tinggal sendirian di rumah karena kedua orang tuanya bekerja di Kalimantan.

Mengetahui kejadian itu teman Angga pun ketakutan dan segera memberitahukan ke tetangga. Akibat penganiayaan itu, Angga sempat koma di rumah sakit selama 13 hari karena luka-luka yang dideritanya. Sejumlah jahitan di kepala, sementara tulang bahunya pun retak dan separuh badan bagian kanan tidak bisa berfungsi normal. Saat ini, sudah tiga bulan Angga terpaksa tidak bersekolah. Sehari-hari,  anak pasangan suami istri Toni Rahadjo-Sumarni ini, hanya menghabiskan waktu di dalam kamar saja.

Warga Dukuh Rejosari, Desa Jaten, Kecamatan Klego itupun tidak bisa menggunakan sendok sendiri untuk makan, sehingga harus disuapi oleh ibunya. Sehari-hari Angga terpaksa mengandalkan bantuan ibunya karena untuk berjalan saja, bahu siswa SMK kelas 2 ini harus menggunakan sabuk yang dipasang di kedua bahunya. Selain itu untuk berjalan dia terpaksa harus menggunakan tongkat.

“Untuk berdiri lama belum kuat, kalau makan ya harus disuapi karena tangannya belum kuat mengangkat sendok,” tutur Sumarni yang segera pulang untuk merawat anak keduanya itu.

Sumarni mengaku tidak terima dengan apa yang menimpa Angga. Selain terluka parah, untuk biaya rumah sakit saja menurut dia sudah habis Rp 55 juta. Padahal menurut Sumarni keluarganya tidak tergolong mampu. Sementara pihak pelaku hanya membantu Rp 5,6 juta saja.

“Kami berharap ada keadilan, meski saya orang miskin saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti itu,” kata Sumarni sembari menahan isak.

Beruntung pihak sekolah memberikan keringanan bagi Angga. Meski sudah tiga bulan tak masuk, namun ada kebijakan sekolah jika Angga bis masuk kembali pada Maret mendatang maka dia masih bisa naik kelas. Tetapi jika tidak, maka terpaksa Angga harus mengulang duduk di kelas dua. (***) Ario Bhawono