JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Nasional Ditetapkan Sebagai Tersangka, Anas Diancam 20 Tahun

Ditetapkan Sebagai Tersangka, Anas Diancam 20 Tahun

159
BAGIKAN
Anas Urbaningrum
Anas Urbaningrum

JAKARTA-Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum ditetapkan sebagai tersangka kasus suap dalam proyek Hambalang dan proyek lainnya. Dalam surat penyidikan, Anas disebut melanggar

pasal 12 huruf a atau Pasal 5 ayat (2) atau Pasal 11 atau 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU 20 Tahun 2001 tentang UU Pemberantasan Korupsi. Ancaman maksimal dari pasal tersebut adalah 20 tahun penjara.

Penetapan tersangka itu berdasarkan hasil gelar perkara, Jumat (22/2). “Semua pimpinan KPK dan tim penyidik hadir. Mereka sepakat menetapkan AU (Anas Urbaningrum), mantan anggota DPR, sebagai tersangka,” kata Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Johan Budi SP, Jumat (22/2).

Dikatakan Johan, penyidik KPK menyimpulkan berdasarkan bukti yang sudah cukup. Anas diduga menerima sesuatu berkaitan dengan janji yang berkaitan dengan tugas dan wewenangnya kala menjabat sebagai anggota DPR. Surat perintah penyidikan diteken oleh satu pimpinan KPK, Bambang Widjojanto.

Namun KPK masih enggan menjelaskan lebih detail mengenai kasus suap atau korupsi yang dilakukan Anas. Selama ini nama Anas kerap dikaitkan dengan dugaan penerimaan mobil Toyota Harrier dan hadiah-hadiah lain dari PT Adhi Karya Tbk, kontraktor proyek Hambalang. Tuduhan ini bermula dari nyanyian bekas Bendahara Umum Demokrat, Muhammad Nazaruddin.

Johan Budi menyatakan, KPK sudah mengantongi dua bukti dugaan suap yang dilakukan Anas dalam proyek Hambalang. Selain dugaan suap Hambalang, KPK juga telah menyelidiki dugaan suap dalam proyek lain. Salah satunya soal duit kongres Partai Demokrat senilai Rp 30 miliar.

“Ada kasus lain yang tengah diselidiki. Sedang dilakukan proses pengembangan,” jelas Johan Budi di Kantor KPK, Jl Rasuna Said, Jumat (22/2).

Selanjutnya, KPK juga akan melacak harta kekayaan Anas. KPK juga akan meminta PPATK untuk menelusuri transaksi mencurigakan yang diduga dilakukan oleh Anas.

KPK juga menegaskan proses penetapan tersangka ini murni proses hukum tak ada kaitan dengan urusan politik. “Tak ada kaitan dengan partai atau politik,” kata Johan.

Anas sendiri berada di rumahnya dan baru akan menjelaskan kasusnya tersebut Sabtu (23/2) siang. Mantan Ketua umum PB HMI itu akan memberi keterangan di Kantor DPP Demokrat, Jl Kramat, Jakarta Pusat. Sejak awal Anas sudah bersikukuh dirinya tak bersalah dalam kasus Hambalang. Bahkan dia bersedia digantung di Monas jika ia menjadi tersangka.

“Besok konferensi pers di DPP, siang hari. Mengenai pertanyaan bisa disampaikan besok,” kata Hutomo, sekretaris pribadi Anas, di kediaman Anas, Jl Teluk Langsa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (22/2).

Satu jam sebelum penetapan tersangka, Anas terlihat santai di restoran Vietnam di Tebet, Jakarta Selatan. Anas bersama sahabatnya yang juga Wasekjen DPP PD, Saan Mustopa.

Keduanya pun tampak santai, sama-sama mengenakan kemeja putih lengan panjang. Anas dan Saan berjalan terlihat meninggalkan restoran itu sekitar pukul 18.30 WIB. Saat ditanya wartawan, dia diam saja.

Anas yang dikonfirmasi detikcom lewat pesan BlackBerry Messenger (BBM) tak membalas. Tapi status BBM Anas ada kalimat baru, “Nabok Nyilih Tangan”. Tak diketahui apa artinya kalimat itu. Tapi secara harfiah artinya menampar seseorang menggunakan tangan orang lain.

Setelah dijadikan tersangka, sejumlah politisi Partai Demokrat (PD) mendesak Anas agar segera mundur dari Ketua Umum PD. Alasanya, sesuai pakta integritas yang ditandatangani, maka Anas Urbaningrum harus mengundurkan diri sebagai Ketum DPP PD pasca penetapannya sebagai tersangka.     “Ya, sesuai pakta integritas dia harus mundur,” kata Marzuki Alie, Anggota Majelis Tinggi PD, Jumat (22/2) sebagaimana dikutip Tempo.co.

Marzuki menjelaskan Majelis Tinggi akan langsung menentukan sikap apa yang mesti ditempuh. Menurut dia, partai akan mematuhi langkah apa yang dipilih oleh Majelis Tinggi dan Dewan Kehormatan tersebut.

Desakan agar Anas mundur juga disampaikan politisi PD lainnya, Ruhut Sitompul. Bahkan ia meminta para pendukung Anas untuk juga mundur dari kepengurusan PD. “Dia harus mundur karena sudah jadi tersangka. “Aku maunya nggak hanya dia (yang mundur -red), semua yang pasang badan untuk dia mundur aja. Mereka yang membuat kami punya polling jatuh,” kata Ruhut, Jumat (22/2).

Sementara itu, para loyalis Anas murka terhadap penetapan status tersangka tersebut. “Saya tidak terima, karena saya yakin Anas tidak bersalah dalam kasus Hambalang,” kata Ketua DPC PD Cilacap, Tri Dianto, yang sejak awal menjadi loyalis Anas.

(Detik)