JOGLOSEMAR.CO Hiburan Selebritis Drama Kehidupan Pedhut Jatisrono

Drama Kehidupan Pedhut Jatisrono

878
KETOPRAK-Sejumlah pemain kethoprak dari komunitas Seniman Remaja Gumregah Solo saat pentas ketoprak dengan lakon Pendhut Jatisrana di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Kamis (7/2). Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Tiga tahun sudah Barendra meninggalkan Dusun Jatisrono untuk menjadi ajudan Pangeran Sambernyawa. Sekembalinya di tanah kelahirannya, Barendra terkejut melihat Telasih, gadis cantik yang pernah menjalin kisah cinta dengannya. Telasih ternyata istri dari kakaknya, Panuntun. Walhasil Panuntun ingin menceraikan Telasih demi kebahagiaan adik kandungnya.

Drama kehidupan dari Barendra dan Panuntun memang penuh liku. Tinggal di tengah hutan, dua bersaudara ini diasuh sang ibu. Sang ayah, Wirojoyo, bupati di Wonogiri memilih meninggalkan dan menyiksa keluarganya demi sebuah jabatan. Namun, Wirojoyo mengalami kegagalan dan memilih untuk pulang.

Sontak keinginan Wirjoyo ditentang oleh Barendra yang merupakan anak kandungnya. Akibat perlakuan Wirojoyo, ibunda Barendra dibuat buta olehnya. Setelah sang ibu mencoba merayu akhirnya Barendra menerima kembali Wirojoyo sebagai ayahnya.

Cerita kehidupan mengambil setting zaman Mangkunegara I berhasil dipentaskan oleh Komunitas Seniman Remaja Surakarta Gumregah di Teater Arena TBJT, Kamis (7/2) malam. Berjudul Pedhut Jatisrono, pertunjukan ini terlihat menarik dengan kolaborasi  ketoprak dengan teater modern. Apalagi dengan kehadiran salah satu personel Pecas Ndahe, Doel Sumbing yang membuat pentas tambah hidup.

”Ketoprak ini juga disajikan dengan lebih  sederhana tetapi detail seperti teater modern dengan memasukkan unsur drama realis di dalamnya, “ ucap Panggah Rudhita Mardi Hatmaja, sutradara pertunjukan.

Pentas ini diikuti oleh 30 orang, kesemuanya itu merupakan seorang remaja yang usianya di bawah 25 tahun. Perpaduan dengan teater modern menjadi siasat yang cerdas agar anak remaja ini tertarik dengan seni ketoprak.

“Melalui cerita ini saya hanya ingin menyampaikan pesan bahwa sejahat apapun orang lain kepada kita, jangan sampai kita memiliki rasa pendendam. Tuhan selalu mengampuni manusia, kenapa kita sebagai umat-Nya memiliki perilaku pendendam,” akunya. Raditya Erwiyanto| Bambang

BAGIKAN