Ekspresi Seni Hubungan Manusia dan Alam

Ekspresi Seni Hubungan Manusia dan Alam

759
OPEN DAY LEMAH PUTIH-Seniman asal Polandia Karolina Nieduza memainkan teater yang seolah mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan di Padepokan Lemah Putih, Mojosongo, Solo, Rabu (27/2). Joglosemar|Budi Arista Romadhoni
OPEN DAY LEMAH PUTIH-Seniman asal Polandia Karolina Nieduza memainkan teater yang seolah mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan di Padepokan Lemah Putih, Mojosongo, Solo, Rabu (27/2). Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Tampak seorang wanita mengenakan busana serba putih tengah sibuk menyalakan  20 batang lilin mengitari pohon. Ketika semua lilin menyala, perempuan bule itu mencoba mengaitkan busana yang di pakainya ke sebuah pohon besar itu. Entah mengapa lilin tersebut tetap menyala dengan terangnya.

Gemercik suara hujan gerimis menjadi suara pengiring wanita itu dalam mengungkapkan kreasinya. Wanita itu ingin menggambarkan bagaimana hubungan seorang manusia dengan alam. Pasalnya kehidupan manusia tak akan pernah bisa lepas dari alam sekitar. Begitulah kiranya apa yang ingin disampaikan oleh Karolina Nieduza (Polandia).

Lain lagi saat Johan Dhaese (Belgia) saat berkolaborasi dengan Helmy Prasetyo dari teater Ruang Solo. Dua seniman ini berduet ingin mengekspresikan hiruk pikuk suasana rumah lewat gerak tubuh. Mulai dari gerakan cepat yang menandakan sedang bekerja, hingga gerakan yang terkesan santai atau lembut yang menggambarkan ketenangan suasana rumah. Tak canggung kedua orang ini juga menggulung – gulungkan badannya.

Bertajuk Open Day, kegiatan ini bukan pementasan, melainkan pertunjukan hasil belajar seni beberapa warga asing yang menimba ilmu di Padepokan Lemah Putih, Mojosongo Solo, Rabu (27/2). Selain beberapa warga asing juga ada beberapa seniman asal Solo, seperti Helmy Prasetya, Retno Sulistyorini dan juga seorang seniman asal Makasaar, Hamrin Samad.

Suprapto Suryodarmo, pemilik Padepokan Lemah Putih mengatakan untuk kali ini memang lebih mengambil suasana alam di lingkungan sekitar. Mbah Prapto, sapaan akrabnya ingin mengungkapkan karya Maha Agung dari Sang Pencipta melalui gerakan seni. “Memang kami lebih fokus pada hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Karena dengan begitu mereka bisa lebih mengeksplorasi apa yang dilihatnya lewat perasaan dan gerakan,” ujarnya. Raditya Erwiyanto

BAGIKAN