Fisioterapi Pada Nyeri Sendi

Fisioterapi Pada Nyeri Sendi

3297
ilustrasi
ilustrasi

Ibu Ana yang mulai menginjak usia 45 tahun mengeluhkan nyeri di persendian lututnya. Dia merasakan nyeri pada lutut saat berjalan, apalagi kalau sedang naik atau menuruni tangga. Awalnya, dia mengira terkena rematik. Tetapi ternyata setelah diperiksa oleh dokter, dia dinyatakan terkena Osteoarthritis atau nyeri sendi.

Fisoterapis Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta, Muhammad Ma’ruf, Amf mengatakan,  Osteoarthritis adalah suatu penyakit sendi yang ditandai dengan kerusakan dan hilangnya tulang rawan persendian (cartilago articulair). Kerusakan ini  mengakibatkan pembentukan tulang baru (osteofit), rasa sakit, pergerakan yang terbatas, kelainan bentuk (deformitas). “Tulang rawan ini hilang akibat terkikis, akibatnya terbentuk tulang baru yang keras. Pembentukan tulang baru ini akan menyebabkan rasa sakit saat dipakai untuk berjalan,” katanya.

Dijelaskannya, kondisi ini bisa menyebabkan peradangan atau inflamasi.  Hal ini dapat terjadi pada sendi karena gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi. Tetapi tidak semua gesekan menyebabkan inflamasi. “Gesekan ini bisa menyebabkan peradangan atau inflamasi,” tuturnya.

Osteoarthritis terjadi bukan tanpa sebab. Beberapa faktor risiko terjadinya Osteoarthritis antara lain adalah wanita yang berusia lebih dari 45 tahun, mereka yang memiliki kelebihan berat badan, aktivitas fisik yang berlebihan, seperti para olahragawan dan pekerja kasar. “Wanita yang menggunakan sepatu hak tinggi menyebabkan beban yang lebih di lutut. Apalagi wanita itu juga memiliki berat badan yang lebih makan akan berisiko sekali terkena Osteoarthritis,” jelasnya.

Selain itu menurut Ma’ruf, mereka yang menderita kelemahan otot juga berisiko terkena Osteoarthritis ini. Osteoarthritis juga berisiko pada mereka yang pernah mengalami patah tulang di sekitar sendi yang tidak mendapatkan perawatan yang tepat. “Ini juga bisa terjadi pada mereka yang pernah mengalami patah tulang di sekitar sendi, tetapi tidak mendapatkan perawatan yang tepat,” tuturnya.

Dikatakan Ma’ruf, Pengobatan untuk osteoarthritis berbeda-beda tergantung stadium penyakitnya. Setelah menegakkan diagnosa dan menemukan problem pasien dengan radang sendi maka bisa segera diambil tindakan fisioterapi. Penanganan fisioterapi  yang paling sering dilakukan antara lain dengan terapi panas yakni SWD (Short Wave Diathermi), IR (Infra Red). Pemberian terapi panas ini bertujuan melancarkan sirkulasi darah di daerah persendian yang mengalami peradangan, nutrisi dan oksigenasi menjadi lebih baik. “Fisioterapi yang dilakukan antara lain dengan melakukan terapi panas,” jelasnya.

Dikatakannya, rasa hangat dari fisioterapi ini akan melemaskan otot yang kaku (spame). Otot akan menjadi lebih elastis dan mengurangi penekanan pada ujung-ujung syaraf nyeri sehingga rasa lebih nyaman. Penyinaran atau pemanasan juga sebagai tindakan pendahuluan sebelum latihan gerak persendian agar jaringan sekitar sendi lebih siap. “Ini juga bisa dikatakan sebagai pendahulu sebelum dilakukan terapi gerakan,” ungkapnya.

Selain terapi panas, kata Ma’ruf, fisioterapi untuk nyeri sendi juga sering dilakukan dengan pemberian terapi listrik yakni TENS ataupun IT(Interferential Terapi). Modalitas ini berfungsi mengurangi atau mengcounter nyeri pada daerah yang sedang mengalami peradangan persendian. Diharapkan dengan terapi ini akan ada efek bloking nyeri dengan cara dialiri arus listrik dengan modalitas tertentu pada jaringan atau organ yang diobati. “Kalau terapi listrik ini untuk meng-counter rasa nyerinya,” jelasnya.

Terapi lain yang juga bisa diterapkan yakni Mikro Massage  dengan US (Ultra Sound). Alat ini merupakan gelombang suara frekuensi tinggi yang menembus jaringan tubuh atau persendian. Terapi ini bisa mengurangi atau menghancurkan pertumbuhan tulang baru yang tidak dikehendaki. “Selain itu  juga bisa melemaskan jaringan otot persendian yang kaku atau tegang pemicu nyeri,” tuturnya.

Pada nyeri sendi, juga bisa dilakukan fisioterapi yang disebut Exercise Therapi. Terapi ini berupa latihan luas gerak sendi, latihan penguatan otot dan gait training. Latihan untuk kasus radang persendian yang paling umum adalah latihan aktif dan penguatan otot-otot sekitar sendi. Latihan ini untuk mempertahankan fleksibilitas persendian yang mengalami peradangan, mencegah volume otot mengecil dan kaku.  Sedangkan untuk kasus dengan nyeri sendi yang sangat dominan dianjurkan mengistirahatkan sendi agar tidak memperburuk keadaan. “Namun pasien masih bisa beraktifitas sehari-hari yaitu dengan pemakai alat bantu jalan berupa kruk atau tripod decker atau corset atau peralatan lainnya,” ujarnya.

Selain fisioterapi seperti di atas, juga bisa dilakukan home program. Program ini merupakan edukasi aktivitas yang aman di rumah. Program ini sangat penting untuk kesembuhan pasien secara mandiri dengan memberikan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya. Pengertian juga diberikan seputar proses terapi dan kemungkinan yang akan timbul. “Aktivitas apa yang memperberat keluhan dan mempercepat penyembuhan misalnya olahraga yang aman atau berisiko,” ujarnya.

Ma’ruf menambahkan, selain pengobatan dari dokter dan fisioterapi, hal yang tidak kalah penting adalah ketekunan pasien dalam menjalankan program yang telah dianjurkan, yaitu kontrol jika obat habis, dan pengulangan kunjungan terapi yang biasanya 6 sampai 12 kali sesuai perkembangan. Sebagai contoh pasien nyeri karena proses rematik di sendi lutut, penanganannya adalah pemanasan dengan IR 15 menit di daerah lutut, kemudian dilakukan aplikasi TENS(modalitas listrik frekuensi rendah untuk blokir nyeri). “Satu sesi terapi kira-kira 30 menit kemudian diulangi 2-3 hari sekali sampai dengan 6 kali,” terang dia. Tri Sulistiyani

BAGIKAN