Flu Burung, Pasokan Telur Itik Merosot

Flu Burung, Pasokan Telur Itik Merosot

822
PERIKSA TELUR- Gatot Supriyanto, peternak itik Dukuh Tempel, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono,, tengah memeriksa telur tetasan mesin miliknya, Kamis (21/2).
PERIKSA TELUR- Gatot Supriyanto, peternak itik Dukuh Tempel, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono,, tengah memeriksa telur tetasan mesin miliknya, Kamis (21/2).

BOYOLALI
Merebaknya flu burung atau Avian Influenza (AI) khususnya pada itik, mengakibatkan pasokan telur itik merosot. Kondisi ini menyebabkan harga telur naik dan pengusaha penetasan maupun usaha telur asin terpaksa mengurangi produksi.

Merosotnya pasokan telur itik ini menurut Gatot Supriyanto, peternak itik Dukuh Tempel, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono karena sampai saat ini masih sedikit peternak yang berani memelihara itik. “Kalau ada yang memelihara, itu tinggal sisa-sisa itik yang selamat dari serangan flu burung,” tutur dia, Kamis (21/2).

Lantaran populasi itik berkurang, sehingga pasokan telur itik di pasaran pun merosot drastis. Kalaupun ada yang menjual, harga telur itik kini naik. Menurut Gatot, telur itik konsumsi naik dari Rp 1.100per  butir menjadi Rp 1.400 per butir. Sedangkan telur itik untuk penetasan melonjak dari Rp 1.300 per butir menjadi Rp 1.700 per butir. Itu pun cukup sulit mendapatkan telur untuk saat ini.

Kondisi ini pun membuat dirinya susah lantaran usaha penetasan itiknya tersendat. Menurut Gatot, dari sembilan kotak mesin penetas, masing-masing berkapasitas 350 butir telur, saat ini hanya satu mesin yang beroperasi. Itu pun kapasitasnya tidak bisa penuh karena sulit mendapatkan telur. “Dapat mengisi sepertiga kapasitas mesin saja sudah cukup bagus,” kata dia.

Selain berdampak pada usaha penetasan, kelangkaan telur juga mempengaruhi usaha telur asin. Menurut Gatot, selain usaha penetasan, istrinya juga punya usaha telur asin. Akibat telur langka dan mahal, pembuatan telur asin harus dikurangi produksinya. Beruntung Gatot memiliki 250 ekor itik dan sudah bertelur.

Rata-rata sehari dia mengaku itiknya menghasilkan 160 butir telur. Jumlah tersebut masih belum mencukupi untuk usaha, lantaran pasokan telur dari peternak lain berkurang karena banyak itik yang mati. Kelangkaan telur juga membuat harga itik melambung tinggi. Harga anak itik betina saat ini mencapai Rp 7.000 dari sebelumnya hanya Rp 5.000. Sementara untuk itik dewasa siap telur, melonjak menjadi Rp 45.000 dari sebelumnya yang hanya Rp 35.000. Sama halnya dengan telur, mendapatkan anakan maupun itik dewasa juga sama sulitnya.

Sementara itu sebagian peternak itik mengaku masih takut memelihara itik. Maryoto misalnya, mengaku belum berani membeli itik lagi karena masih trauma kematian puluhan itiknya beberapa waktu lalu. “Selain takut karena flu burung masih merebak juga karena uangnya belum ada,” imbuh dia.

Ario Bhawono

 

BAGIKAN