Flu Burung, Ratusan Bebek di Kuwiran Dimusnahkan

Flu Burung, Ratusan Bebek di Kuwiran Dimusnahkan

313
ilustrasi

BOYOLALI – Ratusan bebek milik Mujiman (59) warga Dukuh Gading, Desa Kuwiran, Kecamatan Banyudono positif terserang virus flu burung atau Alvian Influensa (AI). Mengetahui hal tersebut, unggas bebek yang tersisa kemudian dimusnahkan untuk langkah antisipasi, Jumat (15/2) siang.

Dari sekitar 500 ekor bebek yang dipelihara Mujiman, sekitar 250 ekor mati, Jumat (14/2).  Mengetahui bahwa bebek-bebek yang mati terserang AI, bebek yang tersisa kemudian dimusnahkan. Pemusnahan unggas tersebut dilakukan dengan penyembelihan ternak, kemudian dibakar dan dipendam di dalam tanah.

Kasus serangan flu burung di wilayah Boyolali ini, diketahui Kamis (14/2), saat petugas Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali hendak melakukan  penyemprotan desinfektan kandang unggas di wilayah Kuwiran. “Awalnya kami mau melakukan penyemprotan desinfektan, tetapi malah menemukan unggas yang mati dan sebagian sekarat,” ungkap Karmidi, Kepala UPTD Disnakkan Banyudono di sela-sela pemusnahan.

Kejadian itu langsung dilaporkan ke dinas, yang segera menurunkan tim surveilence ke lokasi temuan. Hasilnya, setelah diperiksa menggunakan alat rapid test, menurut Ida Nawaksari, Kabid Kesehatan Hewan Veteriner Disnakan, ternyata positif serangan flu burung. Mendapati hal itu, petugas langsung mengisolasi unggas yang ada di kandang Mujiman, serta melakukan pemeriksaan unggas bebek peternak lain yang ada di sekitar lingkungan Kuwiran. Dan ternyata unggas selain milik Mujiman di desa tersebut negatif AI. “Tindak lanjutnya, seluruh unggas yang ada di kandang Mujiman dimusnahkan,” jelas dia.

Menurut Ida, untuk unggas hidup yang dimusnahkan Pemkab Boyolali memberikan bantuan Rp 5.000/ekor unggas hidup. Total alokasi dana yang disiapkan lanjut dia, mencapai sekitar Rp 58 juta dengan peruntukan bantuan sosial depopulasi unggas terjangkit AI. Dengan adanya kematian bebek akibat AI ini, para peternak dihimbau supaya segera melaporkan jika ada kematian unggas mendadak.  Keaktifan peternak dan masyarakat melaporkan adanya unggas yang mati untuk mengantisipasi penyebaran virus AI supaya tidak meluas.

Sementara Mujiman mengaku mengizinkan unggasnya yang tersisa dimusnahkan. Dia mengaku rugi besar mengingat bebek yang dibelinya seharga Rp 6.500 tersebut, saat ini sudah berusia  2,5 bulan dengan tafsiran harga Rp 25.000 per ekor. Meski demikian, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena pemusnahan itu demi keselamatan bersama. Namun Mujiman mengaku tidak kapok memelihara bebek. Setelah ini, Mujiman berencana memelihara bebek kembali. “Mau bagaimana, usahanya ya bebek itu saja, harapannya supaya flu burung cepat berlalu,” tutur dia.

Ario Bhawono

BAGIKAN