JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Hektaran Padi Roboh, Petani Rugi

Hektaran Padi Roboh, Petani Rugi

883
BAGIKAN
Joglosemar/Angga Purnama RUSAK - Petani di Desa Kurung, Kecamatan Ceper memanen tanaman padi yang rusak diterjang angin ribut, Selasa (19/2). Lebih dari 10 hektare tanaman padi di Kecamatan Ceper rusak akibat terjangan angin ribut beberapa waktu lalu
Joglosemar/Angga Purnama
RUSAK – Petani di Desa Kurung, Kecamatan Ceper memanen tanaman padi yang rusak diterjang angin ribut, Selasa (19/2). Lebih dari 10 hektare tanaman padi di Kecamatan Ceper rusak akibat terjangan angin ribut beberapa waktu lalu

KLATEN – Terjangan angin ribut di wilayah Kabupaten Klaten beberapa waktu lalu, mengakibatkan 10 hektare tanaman padi di Kecamatan Ceper rusak. Imbasnya, k petani di empat desa rugi hingga puluhan juta rupiah.

Salah satu petani di Desa Kurung, Ratno (40), mengatakan tanaman padi miliknya ambruk diterjang angin. Kondisi tersebut membuat tanaman padi yang sudah siap panen tersebut rusak. “Kejadiannya sejak awal Februari lalu saat hujan lebat dan angin ribut melanda daerah ini. Akibatnya, tanaman padi yang sudah siap dipanen ambruk dan rata dengan tanah,” kata dia saat ditemui Joglosemar, Selasa (19/2).

Menurutnya, petani tidak dapat berbuat banyak setelah mengetahui tanaman padinya ambruk. Ia dan petani lainnya hanya dapat menunggu masa panen tanaman padi yang sudah berusia 60 hari itu. “Mau bagaimana lagi, mau diikat agar dapat berdiri lagi sudah tidak memungkinkan. Akhirnya petani hanya bisa pasrah dan menunggu lahan lebih kering dulu,” ujar dia.

Ia menuturkan, kondisi tersebut diperparah dengan hujan lebat yang terus mengguyur wilayah Ceper sejak awal bulan lalu. Hal tersebut membuat tanaman padi jenis Inpari 13 yang sudah ambruk itu terendam hingga berhari-hari. Akibatnya, sekitar 2 patok sawah miliknya terendam air hingga membusuk. “Sudah sekitar 10 hari terendam air hujan. Akibatnya, tanaman padi yang ada di bawah membusuk. Biji padi yang seharusnya masih bisa dipanen, rusak karena sudah mulai tumbuh akar,” jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, ia rugi hingga jutaan rupiah. Padahal, jika pada kondisi normal satu patok sawah dapat menghasilkan padi hingga lima kuintal gabah kering panen. Namun, akibat kejadian itu hasil panennya turun drastis dan hanya menyisakan sekitar dua kuintal gabah kering panen. “Itu saja hasilnya tidak bagus. Biji padinya sudah rusak akibat terendam air hingga beberapa hari,” kata dia sembari mengangkut hasil panen.

Sementara itu, Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian Kecamatan Ceper, Subandi, mengatakan terjangan angin ribut tersebut merusak 10 hektare tanaman padi dari total 1200 hektare lahan tanam padi di Ceper. Jumlah tersebut menyebar di beberapa desa di Ceper, di antaranya Desa Kurung, Desa Cetan, Desa Dlimas, dan Desa Pokak. “Paling parah di Desa Kurung. Mayoritas tanaman padi ambruk dan terendam air. Kondisi ini menyebabkan kualitas hasil panen menurun, tetapi tidak menyebabkan kerugian besar karena belum hingga menjadi puso,” jelasnya.

Angga Purnama