JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Jasad Korban Mengambang di Waduk Ketro

Jasad Korban Mengambang di Waduk Ketro

809
BAGIKAN

Rebutan Sinden, Pengrawit Dibantai

ilustrasi
ilustrasi

SRAGEN—Warga Desa Ketro, Kecamatan Tanon, Sragen digegerkan dengan temuan sesosok mayat di dekat pintu air Waduk Ketro, Rabu (27/2) pagi pukul 08.00 WIB. Mayat pria yang diketahui bernama Wawan Sulistyo (25), warga Dukuh Guli RT 7, Gumantar, Mondokan, Sragen itu diduga adalah korban pembunuhan sadis sebelum kemudian mayatnya dibuang di waduk.

Duda satu anak yang berprofesi sebagai penabuh kendang (pengrawit) sebuah grup campursari itu ditemukan mengambang dengan luka di bibir dan lebam di dada sebelah kanan. Saat ditemukan posisi mayat mengambang telungkup dan wajah sedikit miring ke atas. Korban diperkirakan meninggal sekitar dua hari. Pasalnya saat ditemukan, kondisi jasadnya sudah melembung dan mengeluarkan bau menyengat.

Informasi yang dihimpun di lapangan, mayat korban ditemukan kali pertama oleh anak-anak sekolah yang sedang berolahraga dan beberapa warga yang melintas di dekat pintu air Waduk Ketro. Mereka terkejut mendapati sosok tubuh yang mengapung di dekat pintu air dan mengeluarkan bau busuk.

Saat ditemukan, korban mengenakan baju lengan pendek warna gelap bercorak garis-garis, celana jins selutut berwarna abu-abu, dan celana dalam warna abu-abu. Selain itu di saku celana korban ditemukan sebuah handphone BlackBerry dan kunci kontak sepeda motor Yamaha.

Menurut Kades Gumantar, Lasiyo, korban meninggalkan rumah bersama dua orang temannya, T dan N, Senin (25/2) sekitar pukul 14.00 WIB. T dan N adalah tetangga korban. Sejak saat itu, korban tidak kembali ke rumah hingga kemudian terdengar kabar korban sudah meninggal di Waduk Ketro. Satu di antara dua temannya baru kemarin pulang ke rumah, sedangkan yang satunya sedang dalam perjalanan pulang.

Ia juga meyakinkan berdasarkan keterangan teman-teman korban, kematian korban memang tidak wajar dan mengarah pada pembunuhan. Sebelum terjadi pembunuhan, mereka sempat terlibat pesta minuman keras. “Jadi korban dan teman-temannya sempat mabuk-mabukan sebelum ke Waduk Ketro. Nah, mungkin saat kondisi mabuk berat, ada yang berselisih sampai kemudian korban dibunuh,” ujarnya.

Sementara, salah satu teman dekat korban, EW (36) menuturkan korban meninggalkan rumah usai menerima pesan singkat dari salah seorang teman, A (30), Minggu (24/2) sore. A mengajak korban bertemu di sekitar Waduk Ketro selepas Magrib. Setelah itu mereka bersama dua teman korban kemudian minum-minuman keras yang kemudian memicu perkelahian.

EW juga menuturkan antara korban dan pelaku sebenarnya sudah lama berselisih dan menyimpan dendam. Motifnya adalah cinta segitiga karena rebutan sinden (penyanyi). Informasi yang diterimanya, sebenarnya korban dan dua temannya berencana membuat perhitungan dengan pelaku. Namun tidak tahunya, ketika akan dihajar, pelaku justru berbalik melawan dan menghabisi.

“Jadi setelah membunuh korban, pelaku juga mengejar dua temannya. Tapi mereka berhasil kabur. Yang satu lari ke Gresik dan yang satu pulang ke Gumantar. Cerita teman-temannya, mereka itu sama-sama suka dengan seorang sinden. Mungkin cemburu,” urainya.

Kapolres Sragen, AKBP Susetio Cahyadi menuturkan seusai dievakuasi, mayat korban dibawa ke RSUD Moewardi untuk dilakukan otopsi. Namun ia belum dapat memastikan penyebab kematian korban. Termasuk soal dugaan korban sengaja dihabisi, ia juga tidak mau berspekulasi. “Belum ada dugaan apapun. Mayat sedang dilakukan otopsi. Kami masih menunggu hasil resmi dari proses otopsi dan akan mendalami kasusnya dulu,” ujarnya. Wardoyo