JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Jembatan Ambrol, Petani Manfaatkan Kabel Baja

Jembatan Ambrol, Petani Manfaatkan Kabel Baja

440
TANTANG MAUT – Petani menyeberangi jurang dengan kabel baja di Dukuh Dungus Desa Mundu, Kecamatan Tulung, Jumat (8/2). Ambruknya jembatan penghubung Dukuh Salaman dan Dukuh Dungus membuat petani nekat menyeberangi jurang dengan kabel baja. Joglosemar/Angga Purnama

 Demi Mempersingkat Jarak, Meraka Menantang Maut

Memasuki perbatasan Dukuh Dungus dan Dukuh Salaman, Desa Mundu, Kecamatan Tulung nampak seutas kabel yang terbuat dari baja terpasang melintang di antara jurang sedalam 40 meter. Sepintas, kabel tersebut mirip kabel baja yang digunakan dalam flying fox.

Namun tak disangka, kabel tersebut justru digunakan warga Dukuh Salaman dan Dukuh Dungus untuk menyeberang ke lahan pertanian yang ada di sebelah jurang. Tetapi bukan seperti halnya permainan flying fox yang dilengkapi dengan perlengkapan dan prosedur keamanan. Warga memanfaatkan kabel baja yang melintang di atas Sungai Pusung tersebut tanpa menggunakan peralatan yang menjamin keselamatan mereka.

Hal tersebut terpaksa dilakukan warga lantaran jembatan yang biasa digunakan warga untuk menyeberangi Sungai Pusung ambruk dan tak bisa digunakan kembali. Eko Sumanto (40) warga Dukuh Dungus Desa Mundu menuturkan, hal tersebut sangat menyulitkan warga lantaran untuk mengakses jalan terdekat lainnya warga harus memutar hingga sepuluh kilometer. Hingga akhirnya warga memasang kawat baja tersebut untuk keperluan mengangkut hasil panen. “Kalau harus memutar, jaraknya terlalu jauh mas. Sampai 10 kilometer,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (8/2).

Menurutnya, belakangan bukan hanya hasil panen saja yang diangkut dengan cara ‘flying fox’, tetapi warga yang berprofesi sebagai petani juga memanfaatkan ‘flying fox’ buatan warga tersebut. Sedang untuk membangun jembatan kembali, warga dan pemdes tidak memiliki dana. “Sejak sebulan lalu jembatan tersebut rusak dan ambrol ke bawah. Sebenarnya kami juga tidak mau seperti ini, tapi mesti bagaimana lagi,” tambah Eko.

Hal serupa juga diungkapkan oleh seorang petani lainnya, Teguh Sutikno(56). Meski tidak berani menyeberang menggunakan tali tersebut, namun Teguh setia untuk menarik barang maupun warga yang hendak menyeberang. “Di sini kami gotong royong. Kalau tidak berani menyeberang, ya kami menunggu dan membantu setiap orang yang hendak menyeberang. Terlebih saat ini waktunya panen, dan kerekan tersebut digunakan sebagai sarana untuk membawa hasil panen ke rumah warga,” urai Teguh.

Lebih lanjut Teguh menjelaskan, warga sebenarnya sadar bila langkah nekat tersebut sangat berbahaya. Pasalnya, tidak ada alat pengaman apapun yang digunakan warga saat bergelantungan di atas tali tersebut.

Kepala Desa (Kades) Mundu, Zaenuri, mengatakan kondisi jembatan sesek sudah tidak bisa digunakan kembali akibat terputus sebulan lalu setelah diguyur hujan deras. Padahal banyak petani yang menggantungkan hidupnya menggarap tanah untuk pertanian yang berlokasi di seberang jurang yang masih di wilayah Desa Mundu. Angga Purnama

BAGIKAN