Kelas Inspirasi dari Solo Mengajar, Sebarkan Inspirasi Lewat Profesi

Kelas Inspirasi dari Solo Mengajar, Sebarkan Inspirasi Lewat Profesi

730

Profesional yang ikut bergabung bukan hanya berasal dari Solo tapi juga dari luar Kota Solo seperti Serang, Surabaya, Bandung, hingga Balik Papan.

AJARKAN PROFESI PR-Manager Publik Relation The Sunan Hotel solo Retno Wulandari saat memberikan pengetahuan profesi PR kepada sejumlah siswa di SDN Dukuhan, Kerten, Solo, Rabu (20/2). Joglosemar|Budi Arista Romadhoni
AJARKAN PROFESI PR-Manager Publik Relation The Sunan Hotel solo Retno Wulandari saat memberikan pengetahuan profesi PR kepada sejumlah siswa di SDN Dukuhan, Kerten, Solo, Rabu (20/2). Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Bertepatan dengan Hari Inspirasi, pada Rabu (20/2) kemarin, puluhan profesional melakukan aktivitas yang tidak berbeda dengan kebiasaan mereka. Meskipun sebagian dari mereka bukan seorang guru, mereka justru terjun ke 10 Sekolah Dasar (SD) yang ada di Solo. Mereka memiliki banyak profesi antara lain dokter,dosen, pengusaha, wartawan, public relation, fotografer, pramugari, penyiar, hingga jaksa. Keberadaan mereka di 10 SD yang ada di Solo ini adalah untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak lewat profesi mereka.

Kegiatan yang mereka lakukan ini terangkum dalam Kelas Inspirasi Solo yang diselenggarakan oleh Solo Mengajar yang didukung oleh Indonesia Mengajar. Dijelaskan oleh Koordinator Umum Kelas Inspirasi Solo, Dhedi Aristianto,  Kelas Inspirasi Solo merupakan kumpulan profesional yang rela sehari di sekolah untuk mengajar seputar profesinya. “Dengan kelas inspirasi ini, anak akan mengenal banyak profesi. Selain itu, mimpi juga akan timbul pada diri anak,” terangnya kepada Joglosemar beberapa waktu yang lalu ketika pembekalan pada di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS).

 

Kelas Inspirasi yang diinisiasi oleh Indonesia Mengajar ini dilaksanakan serentak pada enam kota di Indonesia antara lain Jakarta, Surabaya, Solo, Pekan Baru, Yogyakarta, dan Bandung. Kelas Inspirasi secara nasional sudah dilakukan kedua kalinya. Sedangkan di Solo baru dilaksanakan sekali oleh Solo Mengajar. Profesional yang mendaftar pada Kelas Inspirasi ini sebelumnya mendaftar di website Kelas Inspirasi. Profesional yang ikut bergabung bukan hanya berasal dari Solo tapi juga dari luar Kota Solo seperti Serang, Surabaya, Bandung, hingga Balik Papan.

Pada Kelas Inspirasi Solo ini ada 88 profesional yang dilibatkan. Mereka yang bisa ikut yakni mereka yang bersedia cuti pada hari inspirasi 20 Februari dan sudah menekuni profesi minimal dua tahun. Sebenarnya ada 150 profesional yang mendaftarkan diri untuk mengisi Kelas Inspirasi Solo. Namun, ada seleksi yang harus dilakukan pada mereka dan hanya dipilih 88 profesional. “Setiap SD ada 8 sampai 9 orang yang mengajar. Mereka harus bersedia cuti karena mereka akan terus berputar untuk mengisi satu jam pelajaran atau 45 menit. Misalnya mereka sudah di kelas 1 mereka pindah kelas 2 dan seterusnya,” jelas Dhedi.

 

Belajar Bersama

10 SD yang dilibatkan pada Kelas Inspirasi Solo ini antara lain SD Bibis Wetan, SD Kerten, SD Sawahan, SD Kawitan, SD Mojosongo, dan SD Serengan. SD tersebut dipilih karena merupakan SD yang termarjinalkan. Maksudnya diisi oleh kaum menengah ke bawah tapi mereka memiliki semangat yang tinggi. “Saat ini memang hanya Solo dulu, tapi kami berharap ini bisa menjadi virus yang menular ke berbagai daerah,” pangkasnya.
Solo mengajar sebagai pelaksana Kelas Inspirasi merupakan komunitas yang bergerak di bidang pendidikan yang berdiri sejak 25 Mei 2012. Mereka mulai melakukan pelayanan pada September tahun lalu. Aktivitas mereka di antaranya mengelola Taman Cerdas yang ada di Mojosongo untuk anak SD dari kelas 1 hingga kelas 6. “Kita mengelola Taman Cerdas di daerah Mojosongo yang kita bagi dalam kelas Reguler dan Non Reguler,” jelas Direktur Eksekutif Solo Mengajar  Yoga Gentur Jati.

Kelas Reguler saat memiliki murid hingga 170 anak. Mereka belajar bersama mata pelajaran seperti di sekolah pada umumnya. Sedangkan kelas non-reguler mereka mereka belajar ekstrakulikuler seperti pelatihan animasi. “Sedangkan untuk pendampingnya mereka didampingi volunteer dari kalangan mahasiswa dari berbagai universitas,” pungkasnya.  Rahayu Astrini

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR