JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Kenali Lebih Dekat Sekam…

Kenali Lebih Dekat Sekam…

421
BAGIKAN
AKSI- Penampilan WanxWunx Percussion, grup perkusi dari kumpulan mahasiswa UKSW Salatiga di salah satu acara baru-baru ini.

Selebritis yang kita kenal sudah pasti mereka yang menghiasi layar kaca, para entertainer di dunia hiburan. Orang-orang yang terkenal, entah di bidang musik, seni peran, seni tarik suara, pembawa acara, komedian, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya di dunia hiburan rupanya, selebritis juga ada di sekitar mahasiswa yang sibuk berkuliah di almamater masing-masing atau Selebritis kampus atau Sekam. Ada selebritis di kampus, sosok-sosok yang terkenal di kampus. Bukan karena hal-hal negatif melainkan prestasi-prestasi yang mereka usung.

Prestasi di dunia akademis atau olahraga mungkin sudah biasa, tapi lain hal dengan prestasi di bidang seni. Ternyata, belum banyak apresiasi di bidang ini. Padahal banyak dari mereka yang mendapat julukan selebritis kampus, terutama di dunia seni mendapat banyak apresiasi dari luar almamaternya.

Dwi Kukuh Purwanto yang kerap disapa Mas Kimpul, salah satu dari Pentolan WanxWunx Percussion ini berbagi cerita dengan Tim Akademia Jumat (1/2), lalu tentang grup mereka. Grup perkusi yang digawangi oleh empat mahasiswa Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga ini berdiri sejak September 2009. Mereka banyak mengisi acara-acara di dalam maupun di luar kampus.

Dari berempat lalu berkembang hingga sekarang berjumlah delapan personel. Di antaranya Kimpul, Luther, Otonk, Adit, Jono, Prima, Haryo, dan Renad. Uniknya lagi, kedelapan personel ini adalah mahasiswa lintas fakultas, meski kebanyakan mahasiswa pertanian. “Kita selalu bangga dengan almamater, bangga dengan pertaniannya juga,” jawab Kimpul saat ditanya mengenai kiprah grupnya. Apalagi bagi WanxWunx sendiri yang kebanyakan personelnya adalah mahasiswa pertanian dan bukan mahasiswa seni. Hal itu kemudian jadi nilai plus tersendiri bagi mereka.

Grup perkusi yang bergenre ethnic modern ini juga sempat berkolaborasi dengan Kunokini Percussion, salah satu grup perkusi yang terkenal di Indonesia. Meski begitu, mereka tidak merasa selayaknya selebritis. “Kalau orang berpikir begitu, ya kita bangga. Tapi ya, biasa saja,” sambung Kimpul.

Beta Yuananda, Mahasiswa Fakultas Kesehatan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang juga mengamini hal tersebut. “Kalau soal selebritis kampus sih, saya nggak merasa,” ungkapnya. Walau kadang Beta memang sering ditegur-sapa oleh orang yang bahkan dia sendiri tidak kenal. Beta Yuananda, penyanyi muda asal Tegal ini juga merupakan anggota dari paduan suara mahasiswa Undip. Dia sudah menyanyi sejak masih balita, lalu melanjutkan dengan latihan vokal yang rutin.

“Saya suka menyanyi, dan selalu berusaha jadi nomor satu. Tapi tetap pendidikan diutamakan,” terang Beta. Mungkin iya mereka dijuluki selebritis kampus, tapi tetap saja mereka masih mahasiswa yang mempunya kewajiban akademis di kampus masing-masing. Mahasiswa angkatan 2012 ini juga mengakui dirinya senang bisa menjadi orang terkenal, walau tidak seterkenal selebritis di televisi. Beta menekankan kepuasan saat menampilkan yang terbaik di atas panggung dan dalam berprestasi itu yang penting, baik untuk nama pribadi maupun nama almamater.

Kalau Beta menganggap selebritis kampus itu terkenal oleh orang tidak dikenal, lain cerita dengan Harris C Damang, salah satu pentolan Teater Getar. “Seleb kampus? Wah, malah kami dianggap seperti orang gila,” jawab Harris sembari terkekeh. Menurut Harris, hal ini dikarenakan penampilan sehari-hari mereka yang apa-adanya namun berbeda dengan penampilan panggung mereka yang “gila.”

Teater Getar yang lebih dikenal di kalangan karyawan dan staf pengajar ini menjadi tempat yang positif untuk mengembangkan diri bukan hanya dalam seni peran, melainkan melatih orang seperti Harris yang awalnya pemalu, menjadi orang yang luwes dan lugas tampil dimuka umum.

Banyak prestasi dan penampilan mereka yang menuai pujian. Baik mengisi festival di wilayah Salatiga, Pekan Budaya, Pelangi Budaya Salatiga, dan yang baru-baru ini mereka ikuti adalah Festival Mata Air di Salatiga Desember 2012 lalu. “Jangan takut dianggap ‘gila,’ karena dari kegilaan itu tercipta kreativitas,” tambah Harris. Bagi Harris, selebritis itu seharusnya gila dalam berdaya-cipta. Sehingga memberikan hal-hal yang baru yang kemudian nanti bisa jadi kebanggaan bukan cuman buat dia, tapi juga buat diri dan kelompok.

“Bagi saya, dunia seni itu terbuka untuk siapa pun,” ujar Aris Setiawan salah satu pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI), Surakarta, membuka pendapatnya terkait pendapat Harris diatas. Orang yang dianggap gila sekalipun terbuka untuk terjun dalam dunia seni. Karena menurut Aris, seseorang yang mempunyai nilai seni adalah nilai lain yang bermanfaat.

Juga menurut Aris, semua orang layak dan sah-sah saja disebut selebritis. Asalkan hal tersebut dapat membawa sisi positif bagi dirinya, lingkungannya dan yang paling penting adalah kampusnya. Entah itu di bidang seni, ilmu pengetahuan, kepemimpinan atau yang lainnya. Selama itu tidak dikotak-kotakkan.

 Tim UKSW