Kenali Osteoarthritis

Kenali Osteoarthritis

472
ilustrasi

Apabila seseorang mengalami nyeri pada sendi, biasanya banyak yang beranggapan, hal itu disebabkan rematik atau asam urat. Sebagian lagi berpikir itu akibat osteoporosis. Namun belum tentu yang terjadi adalah dua penyakit tersebut. Bisa saja orang tersebut mengalami apa yang dinamakan Osteoarthritis.

Osteoarthritis atau yang disebut dengan OA ini adalah penyakit sendi degeneratif noninflamasi yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Degeneratif noninflamasi ini ditandai dengan degenerasi tulang rawan sendi, hipertrofi tulang pada tepinya dan perubahan pada membransinovial. OA mempengaruhi sekitar delapan juta orang di Inggris, dan sekitar 20 juta orang di Amerika Serikat, Diperkirakan bahwa 80 persen dari populasi AS akan memiliki bukti radiografi OA pada usia 65, walaupun hanya 60 persen dari mereka akan gejala.

Dokter bagian Orthopaedi & Traumatologi Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta, Dr. Yulius Mulyamusada, Mkes, SpOT menjelaskan, Osteoarthritis terjadi pada setiap sendi di tubuh, seperti lutut, punggung, saraf siatik. Sendi yang digunakan lebih sering akan lebih mudah mendapatkan masalah degeneratif. Banyak orang berpikir bahwa degenerasi sendi pasti terjadi dengan bertambahnya usia. Sebenarnya penuaan hanyalah salah satu penyebab degenerasi sendi. Penyebab paling umum adalah  dari gerakan yang berulang dan konsisten dalam tugas pekerjaan atau kehidupan sehari-hari, sehingga laju degenerasi dipercepat. “Osteoarthritis ini bisa saja terjadi di setiap sendi tubuh,” terang dia.

Jika terjadi pengapuran, katanya, bantalan sendi lutut lama-kelamaan akan aus dan terjadilah kerusakan sendi. Kerusakan sendi akan berlanjut jika aktivitas lutut tidak dikurangi dan dampaknya sendi akan mengalami erosi dan terkikis. Jika dirontgen akan tampak celah sendi yang menyempit karena adanya erosi dari tulang rawan sendi yang menipis. Di permukaan sendi ada pula yang mengalami penebalan (subchondral sklerosis) dan penipisan (subchondral cyst). Reaksi yang terjadi berupa tulang tumbuh di sekitar sendi (osteofit), dan pada kondisi yang lebih berat sendi akan mengalami deformitas.

Dia menjelaskan, Osteoarthritis dibagi menjadi dua macam, yakni Osteoarthritis Primer dan Sekunder. “Osteoarthritis ini merupakan penyakit sendi degeratif. Ada dua macam yakni primer dan sekunder,” kata Yulius dalam seminar Allergy Management in Daily Practice, beberapa waktu yang lalu.

Dikatakannya, Osteoarthritis primer biasanya tidak diketahui sebabnya. Kebanyakan Osteoarthritis primer ini dihubungkan dengan proses penuaan, dialami biasanya pada usia setelah 45 tahun, dan perkembangnya lamban. Osteoarthritis primer kebanyakan terjadi pada wanita. “Kalau Osteoarthritis primer ini penyebabnya hingga saat ini belum diketahui, dan biasanya terjadi pada usia pertengahan hingga tua,” katanya.

Sedangkan Osteoarthritis sekunder disebabkan oleh penyakit atau kondisi lainnya. Osteoarthritis sekunder ini bisa terjadi di semua usia. Dapat disebabkan oleh trauma yang menyebabkan luka pada sendi, misalnya patah tulang atau permukaan sendi tidak sejajar, akibat sendi yang longgar, dan pembedahan pada sendi. “Sedangkan Osteoarthritis sekunder ini biasanya diketahui sebabnya,” paparnya.

Gejala umum yang sering timbul pada osteoarthritis ini antara lain, persendian terasa kaku dan nyeri apabila digerakkan. Pada mulanya hanya terjadi pagi hari, tetapi apabila dibiarkan akan bertambah buruk dan menimbulkan rasa sakit setiap melakukan gerakan tertentu, terutama pada waktu menopang berat badan. Namun kondisi ini bisa membaik bila diistirahatkan. “Pada beberapa penderita, nyeri sendi dapat timbul setelah istirahat lama, misalnya duduk di kursi  atau di jok mobil dalam perjalanan jauh. Terkadang juga dirasakan setelah bangun tidur di pagi hari,” katanya.

Gejala lain yang sering muncul adanya pembengkakan atau peradangan pada persendian. Persendian yang sakit akan berwarna kemerah-merahan. Apabila punya penyakit osteoarthritis penderita juga akan mengalami, kesulitan menggunakan persendian. “Bahkan sering kali sendi berbunyi saat digerakkan,” terang dia.

Bila sudah muncul bunyi, biasanya kondisi lutut sudah parah sebab sendi sudah terkikis habis. Penderita pun akan merasakan nyeri yang luar biasa. Seolah untuk berjalan sudah tidak mampu karena tidak kuat menahan rasa sakit akibat gesekan antartulang lutut tersebut. “Kalau sudah muncul bunyi itu sudah parah,” katanya. Tri Sulistiyani

BAGIKAN