JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Kenali Tanda Keracunan Makanan

Kenali Tanda Keracunan Makanan

556
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

Adi tiba-tiba mengatakan perutnya mual, pusing, dan kemudian muntah-muntah. Ibu Adi heran, sebab, badan Adi tidak panas, dalam seharian ini bocah 12 tahun itu juga main seperti hari-hari biasa. Tetapi, setelah pulang main, tiba-tiba Adi muntah serta mengeluh perutnya sakit dan kepalanya pusing. Karena muntahnya tidak berhenti, Ibu Adi memutuskan untuk segera membawa bocah itu ke poliklinik terdekat. Setelah diperiksa, ternyata Adi dinyatakan keracunan makanan. Usut punya usut, ternyata iseng-iseng Adi bersama temannya baru saja makan jamur yang mereka masak sendiri. Beruntung dua temannya tidak ikut makan.

Ahli Gizi Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta, Retno Desi Ariyani, S.Gz menjelaskan, keracunan makanan adalah suatu kondisi yang terjadi akibat dari konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Kondisi ini tergolong ringan untuk kebanyakan orang, tetapi kadang-kadang dapat menyebabkan penyakit parah atau bahkan kematian. “Keracunan makanan sering terjadi akibat infeksi yang disebabkan oleh bakteri dari makanan yang tidak disimpan atau masak dengan benar,” katanya.

Dikatakannya, beberapa jenis bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan adalah bakteri Campylobacter, Salmonella, dan Staphylococcus aureus. Bakteri tersebut dapat tumbuh dengan cepat dalam makanan. Dan makanan berisiko tinggi menyebabkan keracunan bila disimpan pada suhu antara 5 derajat celcius C dan 60 derajat celcius. Orang-orang tertentu juga lebih berisiko terhadap keracunan makanan. “Mereka adalah anak-anak, wanita hamil, dan orang tua,” terang dia.

Dia menjelaskan, penyebab keracunan makanan dapat dibagi menjadi dua kategori yakni makanan yang terinfeksi dan makanan yang beracun. Makanan yang terinfeksi adalah makanan yang terdapat virus, bakteri, dan parasit. Sedang makanan yang beracun adalah makanan yang terdapat jamur beracun.  Buah atau sayuran yang kontaminasi pestisida  juga termasuk makanan beracun. Makanan menjadi terkontaminasi karena persiapan atau sanitasi yang buruk. “Makanan yang tidak dikemas atau disimpan pada suhu yang salah juga bisa menyebabkan keracunan makanan,” jelasnya.

Desi mengungkapkan, beberapa jenis bakteri yang bisa menyebabkan keracunan antara lain, Norovirus. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui air, sayuran serta kerang yang terkontaminasi feses/kotoran tinja. Bakteri lainnya, yakni Rotavirus yang merupakan penyebab utama kasus keracunan makanan pada bayi dan anak-anak. Rotavirus dapat masuk ke dalam tubuh melalui kontaminasi feses/tinja pada makanan ataupun saat mereka berbagi tempat bermain. “Beberapa jenis bakteri memang diperlukan di pencernaan. Tetapi, ada yang justru menimbulkan keracunan,” terang dia.

Selain dua bakteri itu, ada beberapa jenis bakteri lainnya yang menyebabkan keracunan, yakti bakteri salmonella yang menyebabkan demam tifoid. Salmonella bisa menembus aliran darah sehingga menyebabkan artritis, penyakit jantung, infeksi tulang dan masalah perut jangka panjang. “Makanan yang biasanya mengandung salmonella adalah daging, daging unggas, susu dan telur. Salmonella sering ditularkan melalui kontak dengan kotoran atau pakan ternak atau melalui makanan yang terkontaminasi kotoran hewan. Buah dan sayuran yang tidak dicuci dengan bersih juga dapat menyebarkan bakteri ini,” terang dia.

Bakteri lain yang juga bisa menyebabkan keracunan yakni, Campylobacter. Bakteri campylobacter masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi unggas mentah, susu mentah ataupun air yang terkontaminasi kotoran hewan. Gejala keracunan yang disebabkan oleh Campylobacter jejuni ini kebanyakan berakhir pada 7-10 hari setelah terkontaminasi. Kontaminasinya sendiri sering disebabkan oleh memakan daging ayam yang sudah terkontaminasi dan air yang tidak bersih atau susu mentah. “Gejalanya seperti demam dan diare,” terang dia.                    Selain nama-nama bakteri itu, masih ada beberapa bakteri lainnya, yakni, Escherichia coli/E. Coli, Listeria Monocytogenes, Clostridium Botulinum/Botulism, Staphylococcus Aureus (Staph) dan Shigella. Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh bakteri Shigella berbeda dengan gejala yang ditunjukkan oleh bakteri jenis lainnya. Biasanya gejala keracunan yang disebabkan oleh bakteri jenis ini akan muncul sekitar 36-72 jam setelah memakan makanan yang tercemar Shigella. Selain merasakan gejala umum keracunan, sekitar 40 persen anak yang keracunan berat akan menunjukkan gejala neurologis termasuk di dalamnya kebingungan, kejang-kejang, sakit kepala, lesu, dan juga leher kaku.

Diungkapkan Desi, secara umum tanda-tanda keracunan makanan yaitu kram perut, mual, pusing dan muntah. Kondisi itu biasanya terjadi selang waktu satu jam setelah tubuh terkena kontaminasi racun. Sedangkan keadaan diare baru akan timbul setelah tiga jam dari proses awal. Pada keadaan tertentu yang parah, muntah terjadi antara 3-4 kali dan diare yang terjadi biasanya diiringi darah ataupun lendir. Tri Sulistiyani