JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Ketika Atap Rumah Dinas Walikota Solo Bocor : Tamu Loji Gandrung Kerap...

Ketika Atap Rumah Dinas Walikota Solo Bocor : Tamu Loji Gandrung Kerap Terkena Rembesan Hujan

547
Joglosemar/Yuhan Perdana PENGGANTIAN GENTENG-Sejumlah pekerja mengganti genteng atap rumah dinas Walikota Surakarta Loji Gandrung, Solo, Selasa (13/11).
Joglosemar/Yuhan Perdana
PENGGANTIAN GENTENG-Sejumlah pekerja mengganti genteng atap rumah dinas Walikota Surakarta Loji Gandrung, Solo, Selasa (13/11).

Rumah tua dan besar itu, tampak begitu kokoh. Di atas bangunan, tampak ada semacam lonceng (stupa). Ada pagar besi yang menghias rapat menutup area rumah berarsitektur Jawa-Belanda itu.

Di halaman rumah bernama Loji Gandrung itu, berdiri patung bertopi bulat khas era kolonial Belanda. Rumah itu, jadi hunian Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo. Merunut dari sejarahnya, bangunan itu sudah berdiri sekitar tahun 1880-an. Sebelum resmi dijadikan rumah dinas walikota, rumah itu, kerap diperbincangkan warga sebagai tempat pesta dansa.

Saking tuanya, rumah itu kemudian masuk sebagai benda cagar budaya (BCB). Tapi, label cagar budaya, tidak sebagus kondisi rumah unik itu yang sebenarnya. Pasalnya, saat diguyur hujan, atap rumah dinas walikota itu, bocor di bagian atap. Khususnya di bangunan ruang tamu.

Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo, sudah risau dengan kondisi itu. Dia beberapa kali tidak enak hati dengan para tamu yang berkunjung ke Loji Gandrung terkena rembesan air hujan dari atap. Ketidaknyamanan itu, sebenarnya sudah dia rasakan lama.

Tapi untuk memperbaiki total, masih pikir-pikir, karena butuh dana besar. Ketidaknyamanan para tamu yang berkunjung, membuat sang walikota minta rumah dinasnya itu dibenahi. ”Saya minta kepada Bagian Umum agar segera memperbaikinya, karena kondisi ini juga mengganggu kenyamanan para tamu yang datang,” katanya, kepada Joglosemar, Sabtu (9/2).

Rudy,–sapaan akrab walikota–, pun berencana mengecek sendiri bagian stupa yang ada di atap Loji Gandrung. Perbaikan atap rumah tua itu, katanya, juga mempertimbangkan kewajiban Pemkot Solo untuk melindungi benda cagar budaya yang ada. ”Saya tidak ingin bangunan yang menjadi BCB ini roboh. Nanti akan saya cek bangunan stupa agar berfungsi kembali,” ucapnya.

Bagian Umum Setda Pemkot Solo, Suwarto, mengatakan, sampai saat ini, pihaknya hanya melakukan perbaikan rutin saja. Jika harus memperbaiki total, dana yang dibutuhkan cukup besar. Bahkan dana itu, sulit dipenuhi dari pos APBD Solo. Diperkirakan butuh Rp 1 miliar untuk memperbaiki total bangunan itu.

“Saat ini, kami baru mengusahakan untuk mendapatkan dana perbaikan dari Pemerintah Pusat. Perbaikan sudah kita lakukan 2012 lalu. Yakni, perbaikan atap di sebelah barat. Itu menggunakan anggaran pemeliharaan rutin sebesar Rp 150-an juta,” katanya.

Ari Purnomo

BAGIKAN