Kisah Derita Bayi Kembar Dera dan Dara

Kisah Derita Bayi Kembar Dera dan Dara

1089

Setelah Ditolak 10 Rumah Sakit, Bayi Itu Meninggal

Judul sebuah buku Orang Miskin Dilarang Sakit yang terbit sembilan tahun lalu,  tampaknya masih juga relevan di zaman sekarang ini. Keluarga miskin selalu saja menanggung derita…

Foto Kembaran Dera Selamat
Foto Kembaran Dera Selamat

Siapa yang tidak merasa gembira bakal memiliki bayi kembar? Begitu pun Lisa Dera Wati, hatinya berbunga-bunga. Bahkan nama untuk kedua buah hatinya itu sudah disiapkan oleh keluarganya.

Sayang, kegembiraan itu tak berlangsung lama, dan justru berujung sedih. Salah satu dari anak kembarnya, Dera Nur Anggraini meninggal lantaran mengalami gangguan pencernaan. Tragisnya, Dera meninggal setelah ayahnya, Eliyas Setia Nugroho (20) yang pontang-panting mengupayakan kesembuhan anaknya itu,  ditolak oleh 10 rumah sakit.

Bayi tersebut lahir pada Minggu (10/2) di RS Zahira, Jagakarsa dengan cara operasi cesar. Namun Dera, si sulung harus mendapatkan perhatian lebih lantaran penyakit saluran pencernaan yang dideritanya. Dera tidak bisa menerima asupan makanan lewat mulutnya, termasuk Air Susu Ibu (ASI).

Karena RS Zahira tidak mampu lantaran keterbatasan alat, akhirnya pihak rumah sakit membuat surat rujukan untuk berobat ke rumah sakit lain. Eliyas ditemani ayahnya, Herman, Senin (11/2) yang lalu, langsung mencari rumah sakit. Pertama mereka ke RS Fatmawati, tapi ditolak. Mereka tidak menyerah dan membawa Dera ke RS Cipto Mangunkusumo.

Baca Juga :  Kisah Siswi SMA Bertemu Sang Ayah Saat Order Ojek Online, Ini Pesan Salma untuk Anak 'Broken Home'

“Di sini kami ditolak karena alasan penuh,” katanya, sebagaimana dikutip Tempo.

Mereka kemudian melanjutkan ke RS Harapan Kita, namun ditolak dengan alasan yang sama, penuh. Lelaki yang sehari-hari berjualan kaus kaki di pasar malam itu kemudian ke RS Harapan Bunda. Di sana mereka malah dimintai uang Rp 10 juta untuk uang muka.

Hari berikutnya, Eliyas pergi ke RS St Carolus, RS Triadipa, RS Asrih dan RS Budi Asih. Rumah-rumah sakit itu pun juga menolak dengan alasan ruangan penuh. Bahkan ada juga yang minta uang muka. Kemudian mereka ke RS Jakarta Medical Centre (JMC) Buncit, dan ditolak juga. Terakhir mereka ke RS Pusat Pertamina, yang juga berujung penolakan.

Akhirnya, Sabtu (16/2)  sekitar pukul 18.30 WIB, Dera mengembuskan nafas terakhir. Dia meninggal di rumah sakit tempat kelahirannya,   RS Zahira.  Kini, jenazah Dera telah dimakamkan di pemakaman warga RT 14/6, Jatipadang Baru, Pasar Minggu. Kini Eliyas tinggal berharap, kejadian seperti itu tidak terulang lagi.

“Rakyat kecil seperti kami memang serba sulit jika terbentur dengan ekonomi,” katanya.

Eliyas sendiri memang mengaku belum memiliki Kartu Jakarta Sehat (KJS). Meski demikian, saat dirawat di RS Zahira, keluarga itu sudah dibebaskan dari biaya persalinan. Mereka cukup membawa KTP dan kartu keluarga serta surat keterangan tidak mampu.

Baca Juga :  Kisah Siswi SMA Bertemu Sang Ayah Saat Order Ojek Online, Ini Pesan Salma untuk Anak 'Broken Home'

Kasus itu pun tak urung mendapat perhatian Mensos Salim Segaf. Politisi PKS tersebut  menyayangkan ada rumah sakit yang menolak pasien. Ia meminta rasa kemanusiaan harus dikedepankan. “Harusnya diterima dulu. Ditaruh di pojokan dulu atau bagaimana,” jelas Salim di kantornya, Senin (18/2).

Salim berharap harus ada tindakan agar peristiwa seperti itu tidak terulang. “Daerah yang harus bertindak tegas. Dalam hal ini dari DKI Jakarta,” tuturnya.

Juru bicara RS Fatmawati, Lia Partakusuma mengatakan, bahwa keluarga Dera memang sempat datang dan menanyakan ada tidaknya alat bantu makan (NICU). Lia mengatakan, rumah sakit memang memiliki alat tersebut, tapi jumlahnya hanya satu unit.  “Kami tawarkan untuk waiting list karena memang sedang dipakai oleh pasien di IGD,” ujarnya.

Menanggapi kejadian tragis tersebut, Gubernur DKI, Joko Widodo menjelaskan, meninggalnya Dera Nur Anggraini bukan karena Kartu Jakarta Sehat (KJS)-nya yang belum berjalan. Namun masalah pendukung fasilitas rumah sakit yang belum siap 100 persen. Bila KJS tidak dikeluarkan, maka ada sekitar 70 persen orang yang bisa terlantar.

“Program KJS sudah benar, namun fasilitas rumah sakit yang perlu ditingkatkan. Tak hanya ini saja, tapi sistem yang lain juga harus berjalan,” ujar Jokowi di kantornya, Senin (18/2). ** Okezone | Detik | Suhamdani

BAGIKAN