JOGLOSEMAR.CO Foto Kisah Ironi Pasar Pucangsawit Solo, Setelah Dua Tahun Berdiri

Kisah Ironi Pasar Pucangsawit Solo, Setelah Dua Tahun Berdiri

587
BAGIKAN

Transaksi Masih Sepi, Ada 32 Pedagang yang Bernyali

MASIH SEPI--Suasana Pasar Pucang Sawit, Jebres, Solo, Jumat (24/2). Meski sudah beroperasi lebih dari satu tahun, kondisi pasar Pucangsawit hingga kini belum memperlihatkan gregetnya. Joglosemar|Kurniawan Arie Wibowo
MASIH SEPI–Suasana Pasar Pucang Sawit, Jebres, Solo, Jumat (24/2). Meski sudah beroperasi lebih dari satu tahun, kondisi pasar Pucangsawit hingga kini belum memperlihatkan gregetnya. Joglosemar|Kurniawan Arie Wibowo

Warna cat bangunan bernama Pasar Pucangsawit itu masih baru. Kondisi bangunannya juga masih kokoh. Maklum, bangunan pasar itu baru berumur dua tahun, usai direvitalisasi. Tapi, ada yang ganjil dengan pasar baru itu. Yakni, transaksi pedagang dan pembeli masih sepi.

Tapi yang mengesankan, adalah semangat sejumlah pedagang yang tersisa. Di saat rekan-rekannya tak tahan dengan sepinya pasar, dan memilih hengkang, mereka masih bernyali membuka kios dengan satu mimpi; esok hari pasar akan ramai.

Saat Joglosemar masuk ke dalam, Selasa (25/2), nyaris seluruh los yang tersedia kosong tanpa pedagang. Saat ini, para pedagang yang bernyali untuk bertahan itu, ada sekitar 32 orang. Padahal pasar tersebut, berlokasi di dekat gerbang masuk Kota Solo.

Sulami, salah seorang pedagang yang masih bertahan, berujar, dia nekat bertahan, karena punya keyakinan pasar akan ramai nantinya. Menurutnya, ramai tidaknya pasar, ditentukan oleh usaha para pedagang sendiri.

Kendati demikian, peran Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Solo, katanya, tetap penting untuk mempromosikan pasar. Sulami hanya menyayangkan, bangunan pasar yang masih bagus itu tidak dimanfaatkan. ”Sebenarnya, kasihan pedagang yang terus berharap,” ujarnya.

Nina (33), pedagang lainnya, berharap, pasar yang hari ini tepat berusia dua tahun sejak diresmikan mantan Walikota Solo, Joko Widodo itu, jadi momentum bagus untuk meramaikan pasar. Dia menghargai kerja keras DPP untuk meramaikan pasar, yang salah satunya menempatkan sejumlah pedagang kaki lima(PKL) dari sejumlah lokasi ke dalam pasar. ”Ya kondisinya memang masih saja seperti ini (sepi). Padahal di Pasar Pucangsawit itu, enak lho buat berjualan,” akunya.

Lurah Pasar Pucangsawit, Kayadi, berujar, sebenarnya promosi sudah rutin dilakukan sejak pasar diresmikan Pemkot. Bahkan program car free day (CFD)  di Jalan Juanda dan pembuatan shelter kuliner di depan pasar sengaja dikonsep untuk meramaikan pasar. Tapi apa boleh buat, usaha itu belum mampu meramaikan pasar seperti yang diharapkan. ”Wayangan, gerak jalan, pameran di dalam pasar pun giat dilakukan lho,” terangnya.

Menurut Kayadi, per 2013 ini, yang tercatat masih ada 32 pedagang yang bertahan. Di antaranya 20 pedagang menempati kios, lima pedagang menempati los makanan kering dan tujuh pedagang menempati los daging. Di mana di dalam pasar itu, seharusnya di tempati 162 pedagang.

”Sejak 2011 dan 2012 ada lebih dari 32 orang. Ada puluhan. Tapi terus menyusut. Pedagang sudah diminta bersabar dan bersama-sama memajukan,” paparnya.

Kepala DPP, Subagiyo, juga membenarkan, kondisi pasar itu belum ada perubahan yang berarti. Namun pihaknya berjanji akan mengupayakan semaksimal mungkin untuk meramaikan pasar yang berusia dua tahun itu. Bahkan DPP akan mengambil tindakan tegas terhadap pedagang yang tidak aktif berjualan, tapi masih terdaftar. ”Akan ada inventarisasi ulang. Karena banyak yang mau berjualan di Pucangsawit,” ucapnya. Ronald Seger Prabowo