Kisah Seputar Makam Ki Gede Sala, Pendiri Kota Solo

Kisah Seputar Makam Ki Gede Sala, Pendiri Kota Solo

3598

Dibangun Era PB XII, Pernah Didatangi Soeharto

ZIARAH MAKAM--Setda Solo, Budi Suharto menabur bunga pada salah satu makam yang terdapat di komplek makam Ki Gede Solo saat melakukan ziarah makam di Kampung Mloyo Kusuman, Baluwarti, Pasar kliwon, Solo, Kamis (16/2). Ziarah makam tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam menyambut hari jadi kota Solo yang ke 267. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
ZIARAH MAKAM–Setda Solo, Budi Suharto menabur bunga pada salah satu makam yang terdapat di komplek makam Ki Gede Solo saat melakukan ziarah makam di Kampung Mloyo Kusuman, Baluwarti, Pasar kliwon, Solo, Kamis (16/2). Ziarah makam tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam menyambut hari jadi kota Solo yang ke 267. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

Kompleks makam ini awalnya hanya berupa tumpukan batu. Lokasinya, di dalam benteng keraton sebelah timur. Tepatnya di tengah kampung Mloyokusuman, Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon. Di kompleks itulah, Ki Gede Sala, tokoh pendiri cikal bakal Kota Solo dimakamkan.

Kompleks makam itu, dibangun masa pemerintahan Paku Buwono (PB) XII. Sejak masa itu hingga kini, kompleks makam itu baru direnovasi sekali, yakni pada 1984. Bentuk makamnya memang sederhana, tapi kerap jadi sasaran peziarah.

Kompleks makam Ki Gede Sala, hanya berukuran sekitar 10 x 10 meter persegi. Selain Makam Ki Gede Sala, di kompleks itu, terdapat pula makam dua kerabatnya, yakni makam Kyai Carang dan Nyai Sumedang. ”Kalau menurut cerita nenek saya, dulu mereka itu teman seperguruan,” kata Joko Saputro Adi (36), juru kunci makam Ki Gede Sala, kepada Joglosemar, Jumat (22/02)

Dirunut dari sejarah, Ki Gede Sala adalah penguasa desa Sala. Desa itu menjadi pilihan lokasi pendirian keraton  saat boyongan dari Kartasura menuju Surakarta . Tapi silsilahnya tetap kabur. Sampai saat ini, walaupun tokoh tersebut berperan sangat penting atas berdirinya Surakarta , tapi Ki Gede Sala tak diketahui jelas asal-usulnya.

Baca Juga :  Heroik, Upacara di Sungai Hingga di Atas tumpukan Sampah!

”Dulu sering ada yang mengadakan penelitian mengenai Ki Gede Sala, baik dari mahasiswa maupun peneliti. Tapi semuanya tak mendapat hasil yang memuaskan. Alasannya ya karena tidak ada tulisan yang tersisa mengenai siapa sebenarnya Ki Gede,” ujarnya.

Selama ini, kelangsungan kompleks makam tersebut didapat dari donatur sukarela. “Dulu terakhir direnovasi tahun 1984. Karena nazar dari seorang kerabat keraton,” ungkapnya. Menurut Joko, renovasi itu, awalnya dari nazar seorang peziarah yang mendambakan keturunan. ”Ternyata doanya terkabul. Akhirnya dia menepati janji untuk membangun kompleks makam ini.”

Kebesaran nama Ki Gede Sala juga tersiar hingga ke mancanegara. ”Kalau yang dari Jakarta banyak. Dari Kalimantan juga ada. Bahkan kemarin ada peziarah dari Malaysia yang datang khusus untuk nyekar di sini,” ucapnya.

Baca Juga :  Perbaikan Loji Gandrung, Rumdin Walikota Solo, Telan Rp 2,3 Miliar

Tidak hanya warga biasa, para pejabat tinggi di negeri ini juga pernah berziarah ke makam Ki Gede Sala. “Dulu saat saya kecil, saya pernah melihat Pak Harto (Soeharto, Mantan Presiden RI) dan Sarwo Edi Wibowo nyekar juga ke sini. Sudah menjadi tradisi juga bila ada pejabat yang akan masuk maupun ke Luar Solo, pasti ke sini. Kalau orang Jawa istilahnya kula nuwun dulu, biar direstui,” tuturnya.

Bertolak belakang dengan nama besar Ki Gede Sala, kondisi kompleks makamnya cukup memprihatinkan. Terutama di bagian pintu masuk yang sudah keropos. Demikian  pula dengan tempat berteduh bagi para ziarah. Penerangannya juga  minim.

”Selama ini perbaikan kecil dari para peziarah. Kami menaruh harapan besar pada Pemkot Solo untuk ikut merawat makam sosok penting dari cikal bakal berdirinya Kota Solo itu,” harapnya. Ronald Seger Prabowo

BAGIKAN