Konflik Suriah Telan 70.000 Nyawa

Konflik Suriah Telan 70.000 Nyawa

648
PEMBEBASAN. Um Jaafar, seorang pejuang wanita Tentara Pembebasan Suriah dan suaminya Abu Jaafar, komandan batalion Sawt al-Haq (Suara Hak), menyiapkan senjata mereka sebelum bergabung di garis depan di Aleppo, Selasa (12/2). Sebelum terjadi revolusi Um Jaafar merupakan penata rambut dan usai dilatih oleh sang suami, ia menjadi anggota batalion Sawt al-Haq yang berjuang di garis depan kawasan Sheikh Saeed, Aleppo. ANTARA/REUTERS/Muzaffar Salman

DAMASKUS—Data terbaru yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa  (PBB) menyebut, jumlah korban tewas akibat konflik di Suriah mencapai 70.000 jiwa. Sebagian besar dari korban tewas adalah warga sipil tak berdosa.

“Jumlah korban tewas akibat perang di Suriah mendekati 70.000,” ujar Komisioner HAM PBB, Navi Pillay, seperti dikutip Reuters, Rabu (13/2).

Korban tewas terbaru yang dikeluarkan oleh Pillay meningkat tajam dari angka yang sebelumnya ia keluarkan Januari lalu. Dalam waktu sekira satu bulan, jumlah warga Suriah yang tewas akibat perang bertambah 10.000, dari semula 60.000 jiwa menjadi 70.000 jiwa.

“Kurangnya konsensus di Suriah yang tidak menyebabkan tidak adanya aksi pencegahan, menyebabkan warga sipil menjadi korban. Kita semua akan dihukum atas tragedi yang terjadi di depan mata,” lanjut Pillay.

Hingga saat ini, dunia internasional terpecah belah terkait ekskalasi kekerasan yang terjadi di Suriah. Dewan Keamanan PBB sepertinya enggan untuk membawa masalah ini ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), yang bukan sebuah lembaga resmi milik PBB.

Sementara kekuatan dunia seperti China dan Rusia terus menempatkan dirinya sebagai pelindumg Suriah, dengan memblokir beberapa resolusi yang dikeluarkan DK PBB terhadap Suriah.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Barack Obama bertekad akan terus menekan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad. “Kita akan terus menekan rezim Suriah yang telah membunuh rakyatnya sendiri, dan mendukung para pemimpin oposisi yang menghormati hak-hak setiap warga Suriah,” kata Obama dalam pidato kenegaraan tahunan di hadapan Kongres AS.

Obama juga berjanji akan membela HAM di Timur Tengah. “Di Timur Tengah, kita akan mendukung warga negara seiring mereka menuntut hak-hak universal mereka, dan mendukung transisi stabil untuk demokrasi,” tandas Obama.

“Prosesnya mungkin akan kacau, dan kita tak bisa mendikte arah perubahan di negara-negara seperti Mesir. Namun kita bisa, dan kita akan bersikeras soal respek akan hak-hak dasar bagi seluruh rakyat,” imbuh Obama.

Dalam dua tahun terakhir ini, sejumlah negara di Timur Tengah telah mengalami pergolakan yang ditandai dengan aksi demo besar-besaran yang memicu revolusi, misalnya di Tunisia, Mesir, juga perang saudara yang terus berlangsung di Suriah.  Detik | Okezone

BAGIKAN