JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Korban Talut Kali Anyar Ogah ke Pondok Boro

Korban Talut Kali Anyar Ogah ke Pondok Boro

293

BALAIKOTA-Para korban Talut Kali Anyar yang ambrol, menolak pindah ke Pondok Boro. Alasannya, tempat hunian sementara itu, kondisinya sangat memprihatinkan.

Mereka ada yang memilih bertahan di rumah di sekitar Talut yang ambrol, dan ada pula yang mengungsi ke rumah warga lainnya, yang lebih aman. Sutino (38), warga RT 01 RW IX, mengatakan, sebagian para penghuni rumah yang rusak itu, memilih mengungsi ke kerabatnya.

Karena, di Pondok Boro belum ada fasilitas air bersih yang memadai. Selain itu, mereka mempertanyakan status saat menghuni Pondok Boro, apakah menyewa atau gratis. ”Kita hanya diminta pindah sementara di Pondok Boro, tapi tidak tahu statusnya dan fasilitasnya belum lengkap,” ujarnya, Minggu (3/2).

Menurutnya, warga akan kesulitan jika tetap diminta menempati Pondok Boro.”Satu kamar berukuran 3×3 meter persegi. Padahal, keluarga kami lima orang. Bagaimana bisa nyaman hidup di Pondok Boro? Perkakas dapur dan barang-barang dagangan kami mau ditaruh di mana?,” katanya.

Apalagi, sambung dia, pengelolaan bangunan itu belum jelas. Seperti diketahui, aset bangunan dari Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) itu belum diserahkan ke Pemkot Solo. Akibatnya, tidak ada pengelolaan yang jelas. Imbasnya, bangunan dua lantai dengan 32 kamar itu selama tiga tahun ini mangkrak,  karena tidak dirawat.

Khoiriyah (39), warga lainnya, mengaku tidak tenang menempati Pondok Boro yang status tanahnya masih milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah itu.  ”Kalau para pejabatnya datang dan mempertanyakan mengapa kami di sana, lalu bagaimana jawabnya? Sedangkan dari Pemkot saja sampai sekarang belum berani mengelolanya,” keluh dia.

Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan fasilitas air bersih di Pondok Boro segera disediakan. Dia minta para warga, menghuni sementara di Pondok Boro itu, agar tidak jatuh korban jika nekat bertahan di rumah yang bangunannya ambrol tergerus arus Kali Anyar.

”Saya akan pikirkan solusinya termasuk tempat pengganti hunian. Yang penting mereka terhindar dari kemungkinan terburuk jika tetap menempati kawasan Talut,” katanya.

Muhammad Ismail

BAGIKAN