Kualitas Guru Meningkat?

Kualitas Guru Meningkat?

261

Ada perkataan bahwa saat ini kinerja guru tidak meningkat hanya gaji saja yang meningkat. (M Furqon Hidayatullah | Dekan FKIP UNS)

ilustrasi
ilustrasi

SOLO – Menanggapi berita yang beredar bahwa saat ini produk guru dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) kurang berkualitas, Prof Dr M Furqon  Hidayatullah, M Pd selaku Dekan Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pun ikut bersuara. Menurutnya hal tersebut kurang tepat karena yang dikatakan tidak berkualitas adalah guru saat ini, yang pernah menempuh pendidikan di LPTK puluhan tahun yang lalu.

“Ada perkataan bahwa saat ini kinerja guru tidak meningkat hanya gaji saja yang meningkat. Itu karena guru saat ini saja yang dinilai, yang pernah mengenyam pendidikan LPTK puluhan tahun lalu tidak,” jelasnya kepada wartawan, Senin (25/2).

Saat itu, kata Furqon pendidikan guru memang masih rendah karena profesi guru masih menjadi profesi nomor dua. Namun, lima tahun belakangan kualitas pendidikan guru sudah meningkat. Profesi guru pun sudah tidak lagi menjadi profesi nomor dua. Peminat untuk mendaftarkan sebagai mahasiswa di Fakultas Keguruan pun meningkat.

Dia juga menanggapi persoalan-persoalan yang muncul dalam menyelenggarakan LPTK. Menurutnya LPTK saat ini kurang berstandar. LPTK akan semakin maksimal dan terstandar jika memiliki asrama dan laboratorium.

Selain itu, perkembangan LPTK pun tidak terkendali. Tahun 2010 di Indonesia ada 241 LPTK, saat ini sudah ada 374 LPTK. Dalam jangka dua tahun sudah ada peningkatan hingga 100 lebih LPTK. “Ini bukan masalah sederhana karena konsekuensi LPTK berdampak pada output yang dihasilkan,” jelasnya.

Banyaknya LPTK ini juga dibarengi dengan belum adanya pembatasan kelas. Permasalahan lain yang ditimbulkan adalah Supply dan Demand (penawaran dan permintaan red) yang tidak berjalan dengan baik. Furqon juga memberikan solusi atau langkah-langkah yang ditempuh agar kualitas guru ke depan semakin baik.

Dampak sertifikasi membuat peminta guru meningkat. Hal ini membutuhkan kejelian untuk memilih guru yang paling berkualitas. “Ketika saya di Temanggung, data di sana menunjukkan bahwa baru 66,7 persen guru di Temanggung lulusan S1. Tahun 2015 hal ini belum tentu tercapai, ini jga merupakan problem tersendiri,” jelasnya.

Langkah selanjutnya adalah adanya profesinalisasi LPTK. Berapa banyak LPTK yang dibutuhkan perlu dipetakan. Perlu adanya rasionalisasi karena akan berdampak pada mutu. Hal ini tidak gampang dan sensitif tapi perlu dilakukan. Selain itu, tak kalah penting adalah perlunya menyediakan LPTK yang berfasilitas dengan asrama, dan laboratororium sekolah. Rahayu Astrini

BAGIKAN