Laweyan Diproyeksikan Jadi Ikon Wisata Kuliner

Laweyan Diproyeksikan Jadi Ikon Wisata Kuliner

451
AKAN DIBANGUN PUSAT KULINER–Sejumlah warga dengan kendaraan bermotornya melintas di gerbang jalan Perintis Kemerdekaan, Laweyan, Solo, Jumat (15/2).  Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

SOLO-Kawasan batik Laweyan semakin berkembang. Selain terkenal sebagai kampung perajin batik, kawasan Laweyan juga akan diproyeksikan menjadi kawasan kuliner yang menjadi ikon Solo bagian barat.

Wilayah yang akan dikembangkan sebagai kawasan wisata kuliner adalah di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan. Ada potensi besar yang ditunjang dengan infrastruktur dan suprastruktur yang telah, menjadi alasan mendasar dirintisnya program tersebut. “Nantinya tiga kelurahan, yakni Sondakan, Laweyan dan Bumi juga akan turut memberikan sumbangsih dalam proses realisasinya,” tutur Alfa Pabela, Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FPKBL), Jumat (15/2).

Dana pengembangan potensi wilayah Laweyan berasal dari gelontoran dana PNPM Pariwisata yang rencananya sebesar Rp 100 juta. Sejumlah dana tersebut diplot untuk penguatan lembaga periwisata dan pengembangan kuliner. “Disini hampir setiap hari banyak anak-anak yang tertarik untuk mengenal lebih dalam dan belajar membatik. Ini menjadi penting untuk menumbuhkan kesenangan dan kecintaan terhadap batik kepada anak-anak sejak dini,” ujar Sekretaris Unit Pariwisata PNPM Pariwisata, Riyanto.

Baca Juga :  Museum Keris Terlengkap se-Indonesia, Magnet Baru Wisata Kota Solo

Bentuk penguatan lembaga, lanjutnya, antara lain penguatan fungsi dan peran Batik Development Center serta dibuatnya semacam sanggar membatik untuk mewadahi peminat yang ingin belajar membatik dan para wisatawan yang berkunjung.

Baca Juga :  Perbaikan Loji Gandrung, Rumdin Walikota Solo, Telan Rp 2,3 Miliar

Disamping itu, diperlukan adanya upaya penambahan peralatan membatik serta dirasakan perlunya pembuatan tempat belajar membatik yang mobile. “Saat ini dikonsentrasikan pengembangan batik dengan motif alam. Sejumlah sembilan orang yang bergabung. Namun masih terbelit kendala terkait ketersediaan tanaman yang menjadi bahan baku pewarna alam,” ujarnya.

Lebih lanjut dituturkan Riyanto, sejumlah dana yang digelontorkan tahun sebesar Rp 75 juta dialokasikan untuk pelatihan guide wisata, craft, pelatihan linmas khusus pariwisata, pembelian alat komunikasi seperti walky talky dan seragam. “Selain itu, sejumlah dana tersebut juga dipergunakan untuk pengecatan becak wisata,” pungkasnya.

 Adilla Prasetyo Wibowo

BAGIKAN