Lima Jembatan dan Tikungan SSB Rawan Longsor

Lima Jembatan dan Tikungan SSB Rawan Longsor

323
WASPADA LONGSOR- Bencana tanah longsor kerap terjadi di kawasan lereng Merapi Merbabu terutama saat musim penghujan. Pengendara, terutama di jalur SSB, diminta selalu waspada agar tidak menjadi korban. Joglosemar|Ario Bhawono

BOYOLALI – Lima jembatan dan tikungan di sepanjang jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB) yang masuk wilayah Boyolali, diidentifikasi sangat rawan longsor. Kondisi ini diperparah dengan kondisi jalan yang dinilai tidak layak atau tidak memenuhi standar keselamatan.

Identifikasi kerawanan tersebut dilakukan jajaran Satlantas Polres Boyolali selama musim penghujan ini. Titik-titik rawan tersebut yakni di tikungan Irung Petruk, tikungan Selopass, tikungan Tritis, tikungan Patran, jembatan empat dan lima Desa Jrakah. Selain itu

identifikasi ini menurut Kapolres Boyolali AKBP Budi Haryanto melalui Kasatlantas AKP Sugino, dilakukan untuk antisipasi bencana, khususnya bagi pengendara yang tengah melintas. Terkait kondisi ini pihaknya meminta supaya pengendara maupun masyarakat sekitar, agar selalu waspada terutama saat melintas di titik-titik tersebut. “Pantauan kami di titik-titik tersebut sering terjadi longsor, maka kami meminta supaya pengendara selalu waspada,” ungkap Kasatlantas, Jumat (1/2).

Selain upaya identifikasi lokasi rawan bencana, menurut Kasatlantas upaya antisipasi bencana juga dilakukannya dengan melakukan patroli setiap turun hujan lebat. Kasat juga mengungkapkan arus lalu lintas yang menuju jalur SSB atau ke arah Magelang juga akan ditutup jika jalur tersebut tertutup longsor.

Pengalihan arus tersebut sejak di perempatan Surowedanan. Sehingga bagi pengendara yang hendak ke Magelang, maka dialihkan untuk melewati Klaten maupun Bawen Semarang. Pihaknya juga memasang rambu-rambu peringatan rawan longsor di jalur SSB. Selain itu Polres juga berharap agar instansi terkait memberikan penerangan yang cukup di jalur tersebut untuk mengurangi risiko kecelakaan. Langkah ini mengingat jalur tersebut sangat minim penerangan. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya kaca cembung di tikungan-tikungan tajam karena ulah tangan jahil.

Terkait kondisi ini pihaknya meminta supaya warga sekitar lokasi pemasangan kaca cembung, agar ikut dalam pengawasan cermin tersebut. Hal ini mengingat pentingnya cermin itu bagi keselamatan pengendara yang melewati tikungan.  Ario Bhawono

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR