JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali Longsor, Jembatan Kembang Nyaris Putus

Longsor, Jembatan Kembang Nyaris Putus

424
BAGIKAN
Joglosemar|Ario Bhawono JEMBATAN AMBROL-Pondasi jembatan Kembang Sungai Grawah, Dukuh Tumang, Desa/Kecamatan Cepogo yang ambrol karena hujan deras beberapa hari terakhir, Kamis (28/2).
Joglosemar|Ario Bhawono
JEMBATAN AMBROL-Pondasi jembatan Kembang Sungai Grawah, Dukuh Tumang, Desa/Kecamatan Cepogo yang ambrol karena hujan deras beberapa hari terakhir, Kamis (28/2).

BOYOLALI –Hujan deras beberapa waktu terakhir, membuat jembatan Kembang Sungai Grawah, tepatnya di Dukuh Tumang, Desa/Kecamatan Cepogo longsor dan nyaris putus, Kamis (28/2). Saat ini jembatan penghubung sejumlah desa ke kantor kecamatan ditutup karena berbahaya.

Longsor terjadi dua kali, pada Rabu (26/2) malam sekitar pukul 22.00 WIB dan longsor susulan yang cukup besar terjadi pada Kamis pagi sekitar pukul 05.00 WIB. Akibat longsor tersebut tiang dan pondasi jembatan jebol. Sehingga posisi jembatan pun sebagian menggantung dan badan jalan growong cukup besar.

Informasi yang dihimpun Joglosemar, jebolnya tiang dan pondasi jembatan juga menimbulkan suara gemuruh cukup keras. Warga sekitar yang mendengar suara gemuruh itu pun sempat ketakutan. Apalagi beberapa hari lalu, rumah warga yang tak jauh dari jembatan dan berada di tebing Sungai Grawah tersebut, juga rusak karena longsor.

Namun setelah diperiksa, ternyata jembatan Kembang yang mengalami kerusakan. Warga kemudian menutup jembatan tersebut dengan batang bambu untuk mencegah kendaraan yang hendak lewat. Jembatan hanya bisa dilalui warga dengan jalan kaki, itu pun hanya di satu sisi badan jembatan yang tidak ambrol.

Abdul Coir, Kepala Desa Cepogo mengungkapkan, jembatan tersebut cukup vital lantaran menjadi akses tiga desa ke kecamatan, yakni Desa Cepogo, Gubuk, dan Kembang Kuning. Selain itu, jalur tersebut juga merupakan jalan penghubung ke wilayah Ampel tembus jalan raya Boyolali-Semarang. “Selain menjadi akses pendidikan, jembatan tersebut juga jalur ekonomi yang cukup vital, bahkan saat erupsi jalur ini termasuk akses evakuasi warga,” ungkap Abdul.

Dijelaskannya, jembatan Kembang dibangun sekitar tahun 1985, dan sampai saat ini belum ada perbaikan, sehingga usia jembatan sudah cukup tua. Ditutupnya jembatan tersebut membuat warga maupun pengendara harus memutar sekitar lima kilometer untuk menuju Kecamatan Cepogo dan sebaliknya. Kondisi ini membuat warga berharap supaya jembatan tersebut segera diperbaiki.

Sementara itu Turisti Hindriya, Wakil Ketua DPRD Boyolali melakukan inspeksi ke lokasi jembatan. Menurut Turisti jembatan tersebut memang vital sehingga pihaknya meminta dinas terkait segera turun tangan ke lapangan. “Setidaknya petugas bisa memeriksa kekuatan jembatan yang tersisa mengingat masih banyak penduduk yang melintasi jembatan ini, kami juga mendorong supaya segera diperbaiki karena sangat dibutuhkan masyarakat,” imbuh dia.

Ario Bhawono