JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Nasional Luthfi dan Fathanah Pernah Dipolisikan

Luthfi dan Fathanah Pernah Dipolisikan

304
dua tersangka kasus suap impor daging sapi

JAKARTA-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hari ini, Senin (4/2) akan mulai melakukan pemeriksaan terhadap para saksi kasus suap izin impor daging sapi di kementrian pertanian. Namun nama-nama yang akan diperiksa sebagai saksi masih disimpan rapat-rapat oleh KPK, termasuk Menteri Pertanian Suswono.

“Senin (4/2) mulai pemeriksaan saksi-saksi. Sampai hari ini belum ada rencana memanggil Menteri Pertanian,” kata Johan Budi  SP, Juru Bicara KPK, Minggu (3/2).

Suap diduga melibatkan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq. KPK menjadikan Luthfi sebagai tersangka kasus suap setelah operasi tangkap tangan terhadap Ahmad Fathanah di Hotel Le Meridien pada Selasa malam lalu. Ahmad, yang diduga sebagai pengatur duit masuk-keluar untuk Luthfi, ditangkap karena menerima suap Rp 1 miliar dari Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi—keduanya petinggi PT Indoguna Utama, perusahaan impor daging sapi.

KPK mengendus ada dugaan keterlibatan Suswono. Sebelum penangkapan, ada percakapan antara Suswono dan Luthfi. Dalam percakapan itu, Suswono memberitahukan akan ada duit “tanda terima kasih” dari Indoguna.

Baik Luthfi dan Suswono membantah terlibat dalam kasus suap tersebut. “Tidak pernah, saya bekerja profesional. Silakan saja tanya pada dirjen-dirjen di sini,” kata Suswono.

Sementara itu, kedekatan Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah seperti yang dilansir KPK bukan isapan jempol semata. Keduanya memang dekat secara personal dan hubungan bisnis. Bahkan mereka pernah berurusan dengan polisi.

Pada 4 April 2005, Luthfi Hasan pernah diadukan ke Polda Metro Jaya atas kasus dugaan penipuan. Kala itu, Luthfi sebagai komisaris utama PT Atlas Jaringan I, sementara Ahmad Fathanah yang menggunakan nama Olong Achmad Fadli Luran menjadi direktur utama.

Pelaporan dilakukan oleh Direktur PT Osami Multimedia, Amalia Murad. Menurut tim kuasa hukum Amalia saat itu, Olong Achmad Fadli Luran alias Ahmad Fathanah pernah membuat perjanjian unuk menyediakan voucher pulsa Mentari dan Simpati sebesar Rp 7,1 miliar dengan PT Osami.

Belakangan, PT Atlas melakukan wan prestasi, di mana saat memasuki bulan keempat ternyata penyediaan voucher itu tersendat. Sehingga masih menyisakan sebesar Rp 5,4 miliar dan hingga waktu tertentu belum terealisasi.

Ahmad Fathanah sempat disidang di PN Jakarta Pusat. Sementara untuk Luthfi, belum ada kejelasan soal perkembangan kasusnya. Pengacara Luthfi, M Assegaf, saat dikonfirmasi soal ini menegaskan, belum tahu menahu. Dia belum membicarakan persoalan materi kasus dengan Luthfi sebab baru bisa bertemu Senin (4/1) besok.

“Saya tidak tahu, soal materi saya sama sekali tidak tahu, saya belum ketemu. Rencana kita tim hari Senin, akan ketemu, kita akan korek,” terang Assegaf, Minggu (3/1).

KPK memiliki keyakinan Luthfi dan Fathanah berperan besar dalam kasus suap izin impor daging sapi ini. Ahmad Fathanah diduga sebagai pengatur duit masuk-keluar Luthfi. Ahmad diduga menerima duit Rp 1 miliar dari Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi, petinggi PT Indoguna Utama, perusahaan pengimpor daging sapi.

Luthfi diduga memerintahkan Ahmad mengambil duit dari PT Indoguna. Perintah itu, kata penyidik KPK ini, disampaikan Luthfi setelah menerima telepon dari Menteri Pertanian Suswono. Dalam percakapan yang direkam KPK itu, Suswono memberitahu Luthfi bahwa Indoguna akan memberi duit tanda “terima kasih” setelah mendapat izin impor daging sapi tahun ini.

Seperti dikutip Tempo.co, Ahmad sempat menyambangi Luthfi di DPR sebelum ditangkap. Dalam pertemuan tengah hari itulah, Luthfi diduga meminta Ahmad mengambil duit di kantor Indoguna di Duren Sawit, Jakarta Timur. Sebelum pukul empat, Ahmad tiba di kantor Indoguna dan mengambil duit suap itu. Kemudian, Ahmad pergi ke Le Meridien hingga akhirnya ditangkap KPK.(Detik)

 

BAGIKAN