JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Nasional Marzuki Tantang Anas : Silakan Bongkar Skandal Demokrat!

Marzuki Tantang Anas : Silakan Bongkar Skandal Demokrat!

329
BAGIKAN

bendera demokratJAKARTA – Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Marzuki Alie menantang mantan Ketua Umum Demokrat, Anas Urbaningrum untuk membongkar skandal di partai berlambang bintang mercy tersebut.

“Kalau ada yang pantas untuk dibongkar silakan. Tidak perlu khawatir. Yang penting kepentingan negara segala-galanya,” ujarnya di gedung DPR, Jakarta, Senin (25/2).

Menurut Marzuki, pernyataan Anas tersebut hanyalah respons atau ekspresi spontan dari kondisi dirinya usai ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus korupsi proyek pembangunan Sport Centre Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Kita tidak perlu merespons karena kita rasakan situasi kebatinan Mas Anas pada saat dinyatakan sebagai tersangka. Kita harus pahami itu, bergejolak dan sebagainya, jadi biarlah Mas Anas tenangkan dirinya dulu,” tutur Marzuki.

Di sisi lain, meski Anas Urbaningrum sudah menyatakan berhenti dari posisi Ketua Umum Demokrat, namun hingga kini dia belum juga melayangkan surat pengunduran diri secara resmi. Majelis Tinggi Partai Demokrat (PD) mengaku belum menerima surat pengunduran tersebut.

“Kita menunggu saja surat resmi dari yang bersangkutan, apakah juga berhenti sebagai kader atau tetap sebagai kader, kita tunggu saja,” kata Marzuki Alie yang juga anggota Majelis Tinggi Demokrat , Senin (25/2).

Meski demikian, Majelis Tinggi Demokrat sudah menyerahkan kemudi Plt Ketua Umum Demokrat kepada empat pejabat teras. Mereka adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen), dua orang Wakil Ketua Umum dan Direktur Eksekutif DPP PD.

“Artinya apa? Kita tidak boleh berhenti dengan berhentinya Mas Anas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat,” kata Marzuki.

Majelis Tinggi Demokrat  sendiri saat ini dikabarkan sedang mempersiapkan Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat. Menyangkut kabar tersebut,  Marzuki tak menampik adanya kongres untuk menunjuk Ketua Umum Demokrat yang baru untuk menggantikan Anas.

Tak Berpengaruh

Kemunduran Anas dari Ketua Umum Demokrat sendiri  tidak berpengaruh terhadap kepengurusan di daerah, termasuk di wilayah Surakarta. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Solo misalnya, tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap solid dengan mundurnya Anas.  Mereka tetap mematuhi imbauan Dewan  Pembina Susilo Bambang Yudoyono (SBY) usai penandatanganan pakta integritas beberapa hari lalu.

“Orientasi DPC Demokrat itu berdasarkan pada program partai. Dan itu otomatis tidak mengganggu, siapa pun  ketua umumnya,” terang Sekretaris DPC Partai Demokrat Solo, Supriyanto, Senin (25/2).

Apalagi saat ini elektabilitas partai sedang menurun, sehingga diambilalihnya partai oleh majelis tinggi diharapkan dapat menaikan elektabilitas secara nasional, termasuk di Surakarta. Ini merupakan penyelamatan partai yang sedang diguncang berbagai kasus.

“Kami di sini masih solid dan tidak mempermasalahkan. Karena kami itu bekerja sesuai dengan program-program partai dan kami mendukung itu,” ungkapnya.

Pihaknya justru menyayangkan mundurnya beberapa kader Demokrat bersamaan dengan mundurnya Anas. Harusnya orientasi kepemimpinan maupun kepengurusan partai berdasarkan plafon partai. Sehingga tidak ada istilah loyalitas pada pribadi, jadi harus dipisahkan antara amanat partai dengan kedekatan pribadi.

“Kami sangat menyayangkan itu,” sambungnya.

Senada, Ketua DPC Partai Demokrat Wonogiri Tety Indarti mengatakan, apa yang terjadi pada Anas adalah persoalan individu, bukan partai. Menurutnya tidak ada partai mana pun, terutama Demokrat yang menginstruksikan pada kader untuk berbuat di luar tugasnya sebagai pengemban amanat rakyat.

Mundur dari Demokrat

Wakil Sekjen Partai Demokrat, Saan Mustafa mengatakan, selain mundur sebagai Ketua Umum Partai  Demokrat, Anas Urbaningrum juga mundur sebagai kader partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

“Ketum mundur, otomatis keluar dari kader. Dia mundur sebagai Ketum sekaligus kader partai,” ujar Saan di gedung DPR RI, Senayan, Senin (25/02).

Menurut Saan, alasan Anas mundur itu karena Anas ingin fokus menghadapi kasus hukum yang sedang membelitnya serta menjalankan isi dari delapan  poin penyelamatan serta 10 poin pakta Integritas Majelis Tinggi Partai. “Mas Anas mundur karena dia tidak mau membebani partai atas kasusnya,” kata anggota Komisi III DPR RI itu.

Ditanya sikap apa yang akan diambil dirinya sebagai loyalis Anas, Saan enggan menjawab banyak. “Sikap dan pribadi dan hak politik masing-masing kita hormati, tidak ada upaya untuk intervensi,” jelas Saan.

Kemunduran Anas dari Ketum maupun keanggotaan Demokrat, membuka peluang besar bagi Marzuki Alie untuk menggantikan posisi Anas sebagai Ketua Umum. Pasalnya, Marzuki tercatat sebagai salah satu peserta yang maju sebagai calon ketua umum Partai Demokrat pada Kongres 2010 lalu.

Sementara kandidat lainnya saat itu, yakni Andi Mallarangeng saat telah berstatus sebagai tersangka dalam kasus korupsi proyek pembangunan Sport Centre Hambalang. Alhasil, Marzuki berpeluang besar untuk menggantikan Anas sebagai Ketua Umum.

“Marzuki kalau dilihat di kongres. Kalau melihat kandidat yang maju adalah Pak Marzuki,” kata mantan Wakil Direkrut Eksekutif Demokrat, M Rahmat di DPR RI, Senin (25/2).

Namun Rahmat menuturkan bahwa ketentuan untuk memutuskan pengganti Anas tetap ada pada mekanisme Kongres atau Kongres Luar Biasa (KLB) partai. Yang pasti, kata dia, Ketua Umum harus memiliki komunikasi yang baik dengan kader dan pengurus partai di tingkat daerah.

“Ketua Umum baru harus kuat di grass root. Syarat mutlak dalam memimpin partai. Ketika kuat di atas tetapi lemah di grass root tidak menguatkan fondasi,” tegas Rahmat. ** Okezone | Detik