Menelisik Skandal Mafia Narkoba di LP Sragen

Menelisik Skandal Mafia Narkoba di LP Sragen

456

Sewa HP Rp 50.000 Per Hari, Omzet Penjualan Jutaan

OPERASI LAPASTertangkapnya salah satu sipir Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas II A Sragen yang nyambi kurir sabu beberapa hari lalu, seolah menjadi pintu pembuka tabir skandal mafia peredaran narkoba yang selama ini diyakini bersemayam di LP Sragen.

Bagi masyarakat awam, penjara barangkali identik dengan bayangan penderitaan. Namun, ungkapan itu sepertinya akan terbantahkan ketika mendengar kesaksian dari sebagian mantan penghuni yang sempat mengetahui sisi menggiurkan dari sebuah praktik gelap peredaran narkoba di balik penjara LP Sragen.

Sebut saja Wiyono (50), salah satu mantan tahanan di LP Sragen yang belum lama ini bebas dari masa hukuman. Selama berada di LP, ia mengaku kerap memergoki adanya napi yang bertransaksi narkoba dengan pihak luar. Transaksi biasanya dilakukan dengan menggunakan handphone (HP) mulai dari pemesanan untuk konsumsi napi di dalam hingga mengatur pembeli yang ada di luar LP.

“Saya beberapa kali dengar sendiri ada napi yang telepon dengan pihak luar untuk  memesan dan memasok barang (narkoba). Bahkan, kalau dipersentase yang dibawa ke dalam itu hanya sedikit dan tidak seberapa, dibanding dengan transaksi barang di luar yang dikendalikan oleh napi dari dalam. Dan ini bukan rahasia lagi,” ujarnya kepada Joglosemar, Jumat (22/2).

Baca Juga :  Kenakan Ikat Kepala Merah Putih, Ratusan Ulama Kecamatan Plupuh dan Aparat Serukan Tolak Negara Kilafah

Ia pun menguraikan rapatnya benteng mafia narkoba di LP juga tak bisa lepas dari mudahnya penggunaan HP di kalangan napi. Jika tidak punya keberanian membawa HP, dengan tarif Rp 50.000 per hari, seorang napi bisa bebas menggunakan HP untuk berkomunikasi atau bertransaksi tanpa harus takut terkena razia. Sikap “toleran” yang ditunjukkan oleh petugas LP adalah salah satu alasan mengapa jaringan narkoba di LP sangat sulit terbongkar ataupun dimatikan.

“Bahkan kalau mau jujur, ada juga sipir yang ikut menyewakan HP. Yang lebih menggiurkan lagi, omzet transaksi narkoba yang dikendalikan dari dalam itu tidak tanggung-tanggung. Sehari bisa sampai di atas Rp 3 juta. Makanya jangan heran kalau ada napi narkoba yang kalau ditanya lebih milih ada di tahanan karena realitanya memang lebih leluasa mengendalikan dari dalam,” timpal PDW (51), sesama mantan napi LP Sragen.

Baca Juga :  Digerebek Pesta Sabu, 2 Kanit dan Sipir LP Sragen Hanya Akan Jalani 4 Bulan Penjara

Menyikapi fenomena itu, Kapolres Sragen, AKBP Susetio Cahyadi mengatakan fenomena peredaran narkoba di Sragen tidak bisa disamakan dengan kota besar lain yang bisa dengan mudah dilacak bandarnya, karena memang ada tempat produksinya. Menurutnya, Sragen hanya wilayah transit peredaran saja. Kendati demikian, upaya pengungkapan yang selama ini sudah banyak menangkap tersangka akan terus dilakukan.

“Kalau di LP karena kewenangan institusinya berbeda, nanti kami akan lebih intensif berkoordinasi dengan pihak LP untuk melakukan pemeriksaan dan pengawasan di dalam,” tegasnya.

Sementara, Kasie Pembinaan Narapidana dan Anak Didik (Binadik) LP Sragen, Mulyana berulang kali menegaskan selama masih ada narapidana narkoba, kemungkinan barang haram beredar di LP tetaplah ada. Namun LP sendiri tak tinggal diam dan terus memperketat pengawasan dengan pemeriksaan rutin maupun pengetatan pembesuk.  Wardoyo 

BAGIKAN