Mengeja Sajak Kelam Penyair Jerman

Mengeja Sajak Kelam Penyair Jerman

399
DISKUSI PUISI-Pengamat sastra dari Jerman Berthold Damshauser (kanan) memimpin diskusi puisi karya Georg Trakl di Teater Arena TBJT Solo, Rabu (20/2). Puisi Trakl berisi pengalaman pribadinya yang tragis dibacakan di solo. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni
DISKUSI PUISI-Pengamat sastra dari Jerman Berthold Damshauser (kanan) memimpin diskusi puisi karya Georg Trakl di Teater Arena TBJT Solo, Rabu (20/2). Puisi Trakl berisi pengalaman pribadinya yang tragis dibacakan di solo. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Georg Trakl, sastrawan asal Jerman yang berpengaruh era tahun 1920-an. Beraliran ekspresionisme dan sering mengungkapkan penderitaan dan trauma yang dialaminya. Penyair kelahiran Austria ini meninggal di usia muda, 27 tahun.

Trakl juga menjalin hubungan sedarah (incest) dengan adik perempuannya sediri. Hal inilah yang membuat dirinya merasa berdosa dan membenci dirinya sendiri. Tak ayal dia pun terjerumus dalam lembah hitam Narkoba. Trakl sering menulis sajaknya berada dalam bius Narkoba. Lantas syair itu disempurnakannya saat sadar. Karyanya sangat banyak, akan tetapi hingga saat ini tercatat hanya berjumlahh 100 saja. Karena Trakl sendiri pernah membakar kumpulan karya puisinya sendiri.

Pengalaman hidupnya yang kelam ini pun dibukukan dalam kumpulan puisi Mimpi dan Kelam Jiwa. Bersama Goethe Institut, Rumah Buku Dunia Tera saat mengadakan diskusi dan baca puisi Georg Trakl, di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBTJ) Solo, Rabu (20/2) malam.

Dalam diskusi dan pembacaan puisi kali ini Sosiawan Leak (pembaca puisi), Berthold Damshauser (pembicara) dan Dorothea Rosa Herliany (pembaca puisi). Secara bergantian mereka membacakan puluhan puisi karya Trakl, seperti Musim Gugur Dingin, Kepada Adik Perempuanku, Nyanyian Senja Hari, dan puisi terakhir yang dibuat Trakl beberapa hari sebelum dirinya meninggal, Grodek.

Berthold Damshauser, alih bahasa puisi Georg Trakl dari Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia mengaku, kenapa dirinya memilih karya Trakl karena puisi – puisinya tentang fenomena nyata, di mana Trakl ingin mengungkapkan buruknya peradaban modern saat ini. Mulai dari masalah gencarnya gempuran teknologi hingga masalah kian jauhnya manusia dengan Sang Pencipta.

“Paling berkesan yakni trauma pribadinya hingga dirinya bisa mencintai adik kandungnya sendiri. Pelajaran inilah yang bisa diambil dan inlah yang menarik saya untuk menerjemahkan karya Trakl,” ujar salah seorang dosen di Perguruan Tinggi di Jerman ini.

Pelaksana kegiatan,Dorothea Rosa Herliany mengatakan sebelum menyambangi Solo, sudah beberapa kota besar di singgahi. Seperti Jakarta, Jawa Barat, dan Semarang.  “Magelang dan Jogja yang akan kami singgahi. Kami hanya ingin mengenalkan bahwa puisi karya sastra Jerman juga memiliki potensi untuk dipelajari, mengingat di Indonesia puisi Jerman kurang diminati,” akunya. Raditya Erwiyanto

BAGIKAN