JOGLOSEMAR.CO Foto Merayakan Cap Go Meh di Tengah Perbedaan

Merayakan Cap Go Meh di Tengah Perbedaan

727
BAGIKAN

Pawai Multikultur, Liong 16 Meter Semarakkan Klaten

KEBERAGAMAN - Penari Liong beratraksi dalam gelaran Pawai Budaya Multikultural di Jalan Pemuda, Klaten, Minggu (24/2). Joglosemar/Angga Purnama
KEBERAGAMAN – Penari Liong beratraksi dalam gelaran Pawai Budaya Multikultural di Jalan Pemuda, Klaten, Minggu (24/2). Joglosemar/Angga Purnama

Sebuah Naga atau Liong sekitar sepanjang 16 meter meliuk-meliuk di Jalan Pemuda Klaten, tepatnya di depan Alun-alun Klaten, Minggu (24/2) pagi. Liong yang menari-nari tersebut merupakan tarian Liong yang dibawakan oleh delapan pemuda dari Sanggar Putra Mataram Yogyakarta.

Pertunjukan itu pun menarik perhatian masyarakat yang datang pada Car Free Day (CFD) pagi kemarin. Pertunjukan Tari Liong tersebut juga disemarakan dengan adanya dua Barongsai Kedua tari tradisi Tionghoa tersebut menjadi lakon utama dalam pawai budaya multikultur.

Selain Liong dan Barongsai, pawai tersebut juga di dukung elemen-eleman multikultur di Klaten, antara lain Pruralisme Komuniti dan Paruman Walaka. Dan pawai di tutup dengan arak-arakan gerobak sapi.

Sekretaris Yayasan Dharma Bakti Klaten, Chandra Budi event ini terselenggara

setelah pihaknya menyampaikan niatnya untuk merayakan dan menyelenggarakan tradisi Imlek dan Cap Go Meh kepada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kebersamaan Klaten. “Saya tidak menyangka antusias masyarakat cukup banyak. Kita memang ingin dapat menyelenggarakan tradisi Imlek atau Cap Gomeh setiap tahunnya di Klaten. Namun, kami belum berani untuk memulainya sendiri. Karena itu kami mencoba menyampaikannya ke FKUB, dan akhirnya dapat terwujud,” papar warga Indonesia keturunan Tionghoa itu.

Sementara itu, Ketua FKUB Kebersamaan Klaten, KH Jazuli A Kasmani NCB, yang akrab dipanggil Gus Jaz, mengatakan pawai budaya multikultur yang diadakan tersebut untuk merayakan tradisi Cap Go Meh yang masih diperingati warga keturunan Tionghoa di Klaten. Elemen-elemen dari warga Klaten lainnya yang terlibat dalam pawai tersebut merupakan wujud dukungan perayaan tradisi etnis Tionghoa di Klaten. “Pada hari ini, terutama saudara kita dari Tionghoa, masih merayakan Cap Go Meh. Kita ingin mendukung perayaan Tionghoa seperti perayaan agama-agama lain di Klaten. Tradisi etnis Tionghoa juga merupakan aset budaya kita, dan itulah indahnya keberagaman,”tuturnya yang membuka pawai multi budaya tersebut.

Sementara di Solo puncak perayaan Tahun Baru Imlek digelar di Pendhapi Gede Balaikota Surakarta, Minggu (24/2) malam. Dalam kesempatan tersebut diserahkan penghargaan kepada lima tokoh Tionghoa yang berperan besar terhadap masyarakat.

Panitia bersama perayaan Imlek 2564/2013, Jinata Jadhisno mengatakan perayaan Imlek tahun ini mengambil tema mempererat dan memperkokoh persaudaraan dengan lilitan ular emas. “Dalam masyarakat Tionghoa, Imlek selalu digambarkan dengan warna emas. Jadi yang digunakan ular emas. Dan persaudaraan di sini tidak hanya untuk masyarakat Tionghoa saja tetapi semua elemen dan lapisan masyarakat di kota Solo,” papar Jinata di sela-sela acara, Minggu (24/2).

Hal tersebut turut diamini oleh Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, yang juga hadir dalam acara kemarin malam. Menurut Rudy, sapaan akrab walikota, perayaan Imlek saat ini tidak lagi hanya disambut Tiong Hoa, tapi lebih pada seluruh masyarakat secara luas. “Ini terbukti dari acara Grebeg Sudiro yang semakin ramai tiap tahunnya dan bahkan sudah menjadi simbol akulturasi budaya di Kota Solo,” ungkap Rudy dalam sambutannya.

Selain itu perayaan Cap Go Meh juga dilakukanpembagian beras oleh Pengurus Kelenteng Tien Kok Sie Pasar Gede Solo. Mereka membagikan ribuan kantung beras yang masing-masing berisi lima kilogram beras ke warga miskin, Minggu (24/2). Panitia Bakti Sosial Kelenteng Tien Kok Sie, Agus Hartono, mengatakan, ada 1.600 kantong yang dibagikan. Angga|Agni| Ronald