MUI: Uang dari Hasil Korupsi Haram untuk Diterima

MUI: Uang dari Hasil Korupsi Haram untuk Diterima

232
Joglosemar/Yuhan Perdana
DISITA KPK-Petugas Linmas mengamati plakat penyitaan KPK terhadap aset rumah milik Irjen Djoko Susilo dalam perkara tindak pidana pencucian uang di Jalan Samratulangi No.16, Kampung Gremet, Manahan, Rabu (14/2) malam.

Jakarta – – Kasus korupsi yang menjerat pejabat negara akhir-akhir ini, menguak fakwa bahwa harta tersangka korupsi mengalir dan dinikmati oleh pihak keluarga yang bersangkutan. MUI menyatakan uang hasil korupsi haram untuk diterima.

“Sudah pasti haram. Wong korupsinya haram. Ya uangnya tentu haram. Karena itu bukan uang yang sah dia peroleh. Uang yang tidak sah itu kan tidak mestinya menjadi milik orang yang diambil kan? bukan milik dia,” ujar Ketua Bidang Fatwa MUI Ma’ruf Amin kepada detikcom di ruangan kantornya, Jl Proklamasi, Jakarta, Sabtu (16/2/2013).

Baca Juga :  Kepedulian Sido Muncul untuk Pariwisata, Jadikan Rawa Pening Destinasi Wisata Dunia

Ma’ruf juga secara khusus menyasar pada keluarga tersangka korupsi yang mau saja menerima uang panas. Menurutnya, sekalipun ring satu, pihak keluarga harus jeli.

“Ya dikasih ke siapa saja. Keluarga juga salah kalau menerima. Sebab sumbernya saja sudah salah,” kata Ma’ruf.

Baca Juga :  Kepedulian Sido Muncul untuk Pariwisata, Jadikan Rawa Pening Destinasi Wisata Dunia

Dalam kasus kasus Simulator SIM yang menjerat Irjen Djoko Susilo, KPK menduga ada uang hasil korupsi yang dialihkan dalam bentuk properti. setelah melakukan pengusutan, KPK menemukan adanya sejumlah rumah Djoko di Semarang, Yogya dan Solo.

Beberapa rumah diatasnamakan Dipta Anindita. Nama terakhir merupakan mantan Putri Solo dan istri dari Djoko. Namun pernikahan itu tidak dilaporkan oleh Djoko ke Mabes Polri.

detik.com

BAGIKAN