JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Ogah Terus Merugi, Pedagang Bekonang Desak Masuk Pasar

Ogah Terus Merugi, Pedagang Bekonang Desak Masuk Pasar

354
BAGIKAN
Ilustrasi Pasar

SUKOHARJO- Ratusan pedagang Pasar Bekonang yang menempati kios dan los pasar darurat mengaku terus-menerus merugi. Oleh karena itu, mereka mendesak agar segera menempati tempat berdagang yang baru.

Kerugian itu didasarkan pada biaya sewa lahan yang mereka gunakan. Masalahnya, los dan kios yang disediakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) tidak strategis dan menyebabkan dagangan tidak laku. Alhasil, sejumlah pedagang lebih memilih menyewa lahan warga dan disulap menjadi los dan kios untuk menjajakan barang dagangannya. Meski harus menyewa lahan, pendapatan mereka justru mengalami penurunan. Artinya, setiap hari pedagang harus tombok untuk tetap berjualan.

Salah seorang pedagang gorengan, Suwarni mengaku setiap hari harus mengeluarkan uang Rp 10.000. Membayar sewa lahan Rp 7.000, retribusi pasar Rp 2.000, parkir Rp 1.000. “Ini setiap hari lho. Padahal, pendapatan saya selama Pasar Bekonang dibangun itu menurun drastis. Kalau seperti ini terus, kami harus bagaimana,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta agar para pedagang segera dimasukkan ke los dan kios pada bangunan baru. Apalagi, ia dan pedagang lainnya mendengar jika pertengahan Februari mendatang pembangunan pasar sudah selesai.

Keresahan juga disampaikan pedagang lainnya, Sri Sayekti. Bahkan, nasib kurang beruntung dialaminya pascakios di pasar daruratnya kena gusur pembangunan drainase di pasar itu. “Kami resah sekali kalau seperti itu. Selama ini tidak ada pemberitahuan kapan kami bisa pindah ke pasar baru,” kata dia.

Terpisah, Kepala Disperindag Sukoharjo, Sriyono menegaskan, akhir Februari mendatang, ratusan los dan kios sudah bisa digunakan. Pertimbangannya, berdasarkan kontrak, rekanan diberi waktu hingga 10 Februari 2013 untuk menyelesaikan pembangunan itu. Deadline tersebut sudah termasuk perpanjangan 50 hari yang diberikan oleh Pemkab. “Masalahnya, ketika sudah selesai, bangunan tidak bisa langsung ditempati. Kami harus mengecek dan melakukan pembagian los dan kios. Tapi kami bisa memastikan akhir Februari pedagang sudah masuk ke pasar,” ujar Sriyono.

Disinggung mengenai sanksi keterlambatan penyelesaian pada 2012 lalu, pihaknya menekankan jika rekanan masih harus membayar biaya denda. “Mereka harus tetap bayar. Dan jika pasca perpanjangan belum juga selesai, maka kami terpaksa mem-blacklist mereka,” ujar dia lagi.

Murniati