JOGLOSEMAR.CO Hiburan Selebritis Opera Malin Kundang Rasa Jawa

Opera Malin Kundang Rasa Jawa

448
BAGIKAN
PERDANA-Cerita Legenda asal Sumatra Barat Malin Kundang mengawali pertunjukan Opera Budaya Nusantara, Minggu (17/2) siang di taman Balekambang. Selain untuk menghibur para pengunjung, kegiatan ini juga untuk kembali mengingat akan cerita legenda yang pernah terjadi di Indonesia. Raditya Erwiyanto

Cerita legenda dari Sumatra Barat yang berjudul Malin Kundang dibawakan secara apik oleh  39 pemain dari Sanggar Seni Pincuk Balekambang, di kawasan Taman Balekambang, Minggu (17/2) siang. Dibawakan secara opera, legenda rakyat dari Sumatra Barat ini berhasil menarik para penonton atau pengunjung Balekambang. Malin Kundang ini menjadi pentas perdana dari Opera Budaya Nusantara.

Malin Kundang boleh jadi cerita rakyat dari tanah Sumatra, namun oleh Sanggar Pincuk dieksplorasi dengan perpaduan unsur Jawa. Terbukti dengan permainan tradisional seperti, jamuran dan cublak – cublak suweng juga ada dalam cerita sewaktu kecil Malin Kundang. Meski demikian rasa budaya dari Sumatra Barat juga ada di dalamnya, seperti Tari Piring dan Tari Rantak.

Efrina, koreografer kegiatan yang juga penggagas ide cerita mengaku sengaja mengambil cerita Malin Kundang. Pasalnya cerita rakyat ini lekat dengan pendidikan moral, sebagai seorang anak kita harus selalu dan selalu menghormati orangtua, jangan sampai sedikit pun kita berani dengan orangtua.

“Fenomena sekarang inilah yang kami ambil. Banyak anak yang berani dengan orangtua.  Melalui opera ingin menyampaikan pesan moral kepada masyarakat, khususnya remaja,” ujarnya saat berbincang dengan wartawan di akhir pertunjukan.

Sementara itu Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Balekambang, Endang Sri Muniarti mengaku bahwa cerita Malin Kundang ini mengawali Opera Budaya Nusantara di tahun ini. Pasalnya pihak pengelola ingin memberikan hiburan kepada masyarakat lewat legenda rakyat yang pernah terjadi di Indonesia khususnya. “Menurut rencana akan kami adakan rutin dua bulan sekali,” akunya. Raditya Erwiyanto