JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Pasar Nguter Dijadikan Pasar Jamu : Letak Pasar Darurat Dikeluhkan

Pasar Nguter Dijadikan Pasar Jamu : Letak Pasar Darurat Dikeluhkan

403
BAGIKAN

Selain jauh dari jalan raya, di sana rawan pencurian.”

Yatmini

Pedagang di Pasar Nguter

PASAR JAMU- Jajaran Komisi II DPRD Sukoharjo melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke Pasar Nguter yang rencananya akan dijadikan pusat Pasar Jamu di Indonesia, Senin (11/2). Joglosemar/ Murniati

SUKOHARJO- Rencana pembangunan Pasar Nguter menjadi pasar jamu yang didanai oleh APBN, menemui kendala. Pasalnya, sejumlah pedagang mengeluhkan keamanan dan jarak pasar darurat yang jauh dari jalan raya.

Sekadar informasi, pada 2013 ini APBN mengucurkan dana Rp 10 miliar untuk membangun Pasar Nguter dan mengubahnya menjadi satu-satunya pasar jamu di Indonesia. Guna menyukseskan program itu, APBD Sukoharjo memberikan dana pendampingan sebesar Rp 1 miliar.

Jika nantinya benar-benar dibangun, secara otomatis semua aktivitas perdagangan di sana akan dipindahkan ke pasar darurat. Ada wacana pasar darurat itu berada di lahan kosong milik warga yang terletak di Nguter RT 1/ RW V Nguter, Sukoharjo.

Salah seorang pedagang jamu di Pasar Nguter, Yatmini (71) mengaku kurang sepakat dengan pemilihan pasar darurat itu. Pasalnya, itu lahan kosong dan rawan pencurian. “Saya dan sejumlah pedagang kurang setuju jika pasar daruratnya di sana (lahan kosong). Kami lebih memilih pinggir jalan dan ditata di sana. Selain jauh dari jalan raya, di sana rawan pencurian,” kata dia saat ditemui jajaran Komisi II DPRD Sukoharjo yang melakukan inspeksi mendadak (Sidak), Senin (11/2).

Pedagang jamu lainnya, Sulastri berharap pembangunan pasar bisa dilakukan setelah Lebaran 2013. Pasalnya, para pedagang harus mudik dan membawa uang hasil dagangannya. “Ya sitik-sitik bisa bawa uang ke kampung. Kami minta habis Lebaran baru dibangun,” katanya.

Sementara itu, Lurah Pasar Nguter, Widadi Nugroho menjelaskan pihaknya sebatas memberikan sosialisasi rencana pembangunan pasar kepada pedagang. Mengenai pasar darurat, pihaknya belum bisa memberikan kepastian. “Kalau pasar darurat belum tahu karena belum ada pemberitahuan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Detail Engineering Design (DED) juga belum dibuat,” ujar dia.

Hanya saja, pihaknya mengklaim jika para pedagang melalui himpunan yang ada di sana mengaku setuju pasar dibangun. Terkait dengan pasar darurat, lokasi itu menjadi satu-satunya alternatif. “Kalau pasar darurat di pinggir jalan, maka mereka akan menyewa rumah untuk berdagang. Kita khawatir jika pasar sudah jadi, maka mereka tetap menyewa dan kios serta los di pasar jadi sepi,” katanya.

Menanggapi masalah itu, Ketua Komisi II DPRD, Hasman Budiadi meminta agar sosialisasi gencar dilakukan. Pertimbangannya, tahun ini pasar itu dibangun dan nantinya didesain menjadi pusat pasar jamu di Indonesia. “Kalau spesifik menjadi pasar jamu, maka pedagang jamu akan mendapatkan prioritas. Nah, apakah itu tidak menimbulkan masalah antarpedagang? Maka kami harap ada sosialisasi yang baik,” ujar Hasman di sela-sela Sidak. Murniati