JOGLOSEMAR.CO Foto Pendiri PKS: Tangkap Anis dan Hilmi!

Pendiri PKS: Tangkap Anis dan Hilmi!

269

JAKARTA–Pendiri PKS (dulu Partai Keadilan), Yusuf Supendi, merasa prihatin dengan apa yang terjadi dengan PKS sekarang. Untuk menyelamatkan PKS, Yusuf berharap KPK bisa membersihkan kader-kader yang bermasalah di PKS.

“Bagaimana cara menyelamatkan PKS? Sederhana, kalau mau selamat gampang. Saya berpesan dan meminta kepada KPK segera menangkap Anis Matta dan Hilmi Aminuddin, ditangkap dan digiring ke Guntur,” kata Yusuf, di Jakarta, Minggu (3/2).

Yusuf pernah melaporkan Anis Matta ke KPK dengan tuduhan penggelapan, sedangkan Hilmi disebutnya terkait dengan kasus yang terkenal disebut daging berjanggut pada 2011 lalu. “Karena Anis Matta telah saya laporkan tentang penggelapan uang, kalau Hilmi Aminuddin dia punya keterkaitan dengan kasus yang lalu yang sebelumnya nama Luthfi malah belum disebut, jadi ada untaian, jilid satu, jilid dua,” ujarnya.

Untuk Hilmi Aminuddin, Yusuf punya catatan sendiri. Menurut dia Hilmi telah melakukan kebohongan terkait asas partai. “Hilmi harus minta maaf karena melakukan kebohongan publik. PKS sebagai partai dakwah tak pernah diubah jadi partai terbuka, ketika Mukernas di Bali 2008. Namun Hilmi malah menyatakan PKS sudah dinyatakan sebagai partai terbuka,” tuturnya.

Tak cuma itu, Yusuf juga menuding Ketua Dewan Syura PKS Hilmi Aminuddin kerap menerima setoran. Hilmi disebut kerap memanfaatkan posisinya sebagai petinggi partai untuk menerima setoran dari banyak pihak. “Jadi pada tanggal 25 Maret 2011 ketika saya ke KPK, saya mendapat informasi bahwa Hilmi sering menerima setoran,” beber Yusuf.

Yusuf mengatakan, Hilmi kerap memanfaatkan posisinya sebagai petinggi partai untuk memperoleh setoran. Namun Yusuf tak merinci siapa yang memberi setoran dan untuk apa setoran diberikan. “Jadi sering menerima setoran dari mana-mana. Karena dia dalam anggaran dasar adalah pimpinan tertinggi partai. Ya segala sesuatunya ya terserah kepada dia,” ujarnya.

Yusuf juga menuding Hilmi terlibat dalam kasus suap daging impor. “Hilmi telah melakukan intervensi dengan memasukkan seorang pengusaha bersama anaknya yaitu Ridwan atau Iwan. Dan bulan April saya mendapatkan informasi bahwa Ridwan itu masih aktif melakukan bisnis daging sapi itu. Jadi kalau melihat ini ya jelas ada kaitannya dong,” paparnya.

Oleh karenanya, Yusuf menilai PKS akan makin terpuruk jika Anis dan Hilmi tetap berada di pucuk pimpinan PKS. “Selama mereka yang memimpin, PKS akan makin hancur,” imbuhnya.

Karenanya, Yusuf menilai Hidayat Nur Wahid lebih layak memimpin Partai Keadilan Sejahtera. “Jika kita berpikir kemaslahatan dakwah dan kelestarian partai, maka yang lebih layak memimpin PKS adalah Hidayat Nur Wahid dari pada Anis Matta,” kata Yusuf.

Sebelumnya, pengamat politik Yunarto Wijaya juga menilai Hidayat Nur Wahid lebih pantas memimpim PKS menghadapi Pemilu 2014. Menurut dia, persaingan antar-partai politik menghadapi Pemilu 2014 sangat keras sehingga diperlukan figur memimpin yang lebih hati-hati dalam mengambil keputusan. “Saya melihat, Pak Hidayat lebih tenang, lebih hati-hati, serta lebih netral,” paparnya.

Ketika ditanya soal kepempinan Anis Matta, menurut dia, Anis Matta juga baik, tapi lebih energik dan emosional sehingga dikhawatirkan PKS akan menjadi blunder.  Ia mencontohkan, sesaat setelah diumumkan menjadi Presiden PKS, Anis Matta sudah menyatakan PKS menghadapi konspirasi besar.  “Ini pernyataan yang blunder,” sebut Yunarto.

Sementara analis politik dari Charta Politika, Arya Fernandes, menyebut perlawanan PKS dengan memakai istilah konspirasi dan diskriminasi, tidak menguntungkan secara elektoral. “Justru akan memperburuk citra PKS di mata pemilih, terutama segmen pemilih perkotaan, terdidik dan memiliki akses informasi. Segmen pemilih dari kelompok perkotaan dan terdidik akan melakukan evaluasi terhadap PKS, bisa saja mereka memilih partai lain atau memilih Golput,” kata Arya.

Konflik dengan KPK juga akan mempengaruhi pembentukan karakter kader PKS. Kader-kader pemula, sebut Arya, akan sangat terguncang dan berpotensi bermigrasi ke partai lain. “Bila tidak hati-hati, manuver PKS bagai menepuk air di dulang terpecik muka sendiri,” tuturnya.

Selain itu, konflik dengan KPK malah memperburuk citra PKS di masyarakat. Perlawanan dengan bahasa lisan malah membuat kesan PKS tidak mempercayai kredibilitas dan integritas KPK. “Padahal KPK saat ini tengah on fire dan tengah mendapatkan dukungan tinggi dari publik. Integritas dan kredibilitas KPK sudah teruji dalam sejumlah ujian dan tantangan, baik dari konflik internal maupun eksternal,” terang Arya.

Menurut dia, publik saat ini berpihak kepada KPK dalam upaya pemberantasan korupsi. “Perlawanan PKS pada KPK akan sia-sia dan malah memperlemah PKS,” ujarnya. Arya menyarankan agar pimpinan PKS melakukan koreksi internal tanpa berupaya membentengi diri terkait perkara yang tengah menyeret mantan presidennya.

 Detik | Antara

 

 

 

BAGIKAN