Peran Keluarga dalam proses Rehabilitasi Pasca Stroke

Peran Keluarga dalam proses Rehabilitasi Pasca Stroke

1052
Pasca Stroke
Pasca Stroke

Penyakit Stroke yang menyerang salah satu anggota keluarga, bukan hanya membawa penderitaan bagi si penderita, namun juga menjadi beban tersendiri bagi anggota keluarga yang lain. Apalagi bila yang terserang stroke adalah kepala keluarga yang notabene bertanggung jawab untuk mencari nafkah bagi keluarga. Jangankan untuk kembali bisa bekerja seperti semula, bahkan untuk keluar rumah saja penderita sering merasa malu atau minder. Penderita pasca stroke biasanya merasa seperti orang cacat yang sudah tidak berguna lagi.

Tidak mudah memang membangkitkan semangat penderita pasca stroke untuk mau berobat secara benar dan rasional. Padahal dengan pengobatan yang benar penderita pasca stroke mampu mencapai tingkat kesembuhan yang dan mampu kembali ke fungsinya sebagai anggota keluarga. Bahkan penderita pasca stroke bisa kembali mempunyai peran dalam masyarakat  atau memberikan kontribusi yang positif demi kemajuan ekonomi, sosial, pendidikan  dalam keluarga dan lingkungannya.

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik & Rehabilitasi Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta, Dr Sondang Rexano AK,SpKFR mengungkapkan faktor dukungan keluarga sangatlah penting bagi pemulihan atau rehabilitasi pasca stroke. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya dialog dan saling pengertian antara penderita, keluarga penderita dan dokter yang menangani agar proses rehabilitasi bisa berjalan dengan baik. “Penderita stroke juga perlu diberi pengertian, bahwa proses pemulihan dan rehabilitasi akan berlangsung secara bertahap dan membutuhkan kesabaran,” katanya.

Sondang mengatakan penderita  pasca stroke tidak boleh egois dan maunya menang sendiri. Penderita juga harus bisa memberikan rasa aman dan tenang pada anggota keluarga. “Berusahalah menjadi pasien yang menyenangkan, agar semuanya berjalan dengan baik, tanpa ada rasa paksaan ataupun saling curiga dan saling menyalahkan,” ujarnya.

Menurut Sondang proses rehabilitasi akan berjalan dalam waktu yang lama. Biasanya berlangsung antara satu hingga enam bulan, bahkan bisa juga sampai bertahun-tahun pada kasus yang berat. “Penderitaan tidak hanya dialami yang terserang saja, tetapi seluruh anggota keluarga juga ikut merasakan,” jelasnya.

Dijelaskan Sondang, pada kasus stroke yang ringan, penderita bisa sembuh dalam tempo kurang dari dua Minggu dan bisa kembali beraktivitas seperti sebelumnya. Pasien tidak perlu ada pembatasan aktivitas fisik, penderita bisa kembali ke pekerjaannya semula. “Asal jangan lupa untuk senantiasa menjaga pola hidup sehat dan kontrol kondisi kesehatan secara teratur,” terang dia.

Menurut Sondang, dalam kenyataan sehari-hari penderita pasca stroke yang ringan malah dilarang beraktivitas oleh keluarganya, harus selalu beristirahat, bahkan kalau perlu keluar atau berhenti dari pekerjaannya. “Ini merupakan kekeliruan yang mendasar akibat adanya ketidaktahuan atau ketakutan akan kambuhnya serangan stroke yang lebih berat,” paparnya.

Dijelaskannya, memang risiko terhadap serangan ulang pada penderita pasca stroke akan lebih besar daripada orang yang belum pernah kena stroke. Tapi ini bukan alasan untuk kemudian membatasi aktivitas penderita pasca stroke. Karena pembatasan aktivitas justru akan memperberat kelemahan fisik yang dialaminya. Selain itu akan menimbulkan gangguan yang  berat pada fungsi mentalnya. Penderita akan menjadi minder, depresi bahkan paranoid. Penderita menjadi berubah perangai, menjadi pemarah, pencuriga dan mengalami kemunduran pada status mentalnya. “Kalau sudah begini maka segala upaya pemulihan/rehabilitasi pasca stroke nya akan semakin sulit bahkan sia-sia,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, Dokter spesialis Rehabilitasi Medik akan melakukan assesment terhadap penderita pasca stroke untuk menentukan kelainan atau gangguan yang dialaminya. Kemudian akan menentukan langkah program rehabnya. Kursi roda hanya dibutuhkan pada penderita stroke dengan kelemahan fisik berat, gangguan keseimbangan berat atau penderita yang sudah sangat lanjut usianya. Dokter rehab akan selalu berusaha melatih penderita agar mampu mencapai status kemampuan berjalan yang setinggi tingginya. “Mulai dari berjalan dengan bantuan pendamping di sisi tubuhnya. Berjalan mandiri dengan bantuan walker atau cukup dengan tongkat , sampai penderita mampu berjalan mandiri seperti sebelumnya,” terang dia.

Dijelaskan Sondang, kesalahan dalam menentukan status kemampuan fisik seperti kemampuan berjalan, perawatan diri dan kemampuan kognitif akan mengakibatkan menurunnya status fungsional penderita. Di mana tingkat kemandirian penderita pasca stroke justru turun. Penderita pasca stroke akan jatuh dalam status kecacatan berat (handicap) dan menjadi tergantung sepenuhnya pada orang lain. “Pada akhirnya akan menjadi beban keluarga dan masyarakat juga,” tuturnya. Tri Sulistiyani

BAGIKAN