JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Perayaan Cap Go Meh Solo: Barongsai Panen Angpao

Perayaan Cap Go Meh Solo: Barongsai Panen Angpao

661
BAGIKAN
CAP GO MEH - Sejumalah kelompok Barongsai dan LiongTripusaka tengah bearaksi di jalan Dr. Rajiman Coyudan, Solo, Sabtu (23/2). Karena banyaknya permintaan warga, kirab Cap Go Meh diajukan. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni
CAP GO MEH – Sejumalah kelompok Barongsai dan LiongTripusaka tengah bearaksi di jalan Dr. Rajiman Coyudan, Solo, Sabtu (23/2). Karena banyaknya permintaan warga, kirab Cap Go Meh diajukan.
Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Perayaan Cap Go Meh, sebagai perayaan terakhir pergantian tahun, dan juga menjadi penutup rangkaian ritual Imlek, ditandai dengan berkelilingnya sejumlah liong dan barongsai ke seputaran kawasan di kota Solo, Sabtu (23/2).

Pawai barongsai ini dimajukan satu hari dari ketentuan tradisi. sebenarnya, Cap Go Meh digelar setelah 15 hari perayaan tahun baru Imlek. Namun berhubung hari Minggu sejumlah toko tutup, perayaan keliling liong dan barongsai digelar kemarin.

Koordinator liong dan barongsai Tripusaka Adjie Candra menerangkan, pelaksanaan Cap Go Meh sebenarnya jatuh pada hari Minggu (hari ini), namun apabila atraksi liong dan barongsai dilaksanakan pada Minggu,  dikhawatirkan banyak toko yang tutup.  Dan atas permintaan masyarakat khususnya pemilik toko, maka diajukanlah kirab tersebut.

“Hari ini (kemarin-red) liong dan barongsai memulai perayaan terlebih dahulu, lalu untuk acara puncak perayaan Cap Go Meh digelar pada Minggu malam (24/2) di Pendhapi Gede Balaikota Solo,” jelas Adjie.

Dalam pawai tersebut, sedikitnya tiga perkumpulan barongsai dan liong turut serta, yaitu Macan Putih di wilayah Pasar Gedhe, Tripusaka di wilayah Coyudan dan Karunia Maha Kuasa di Pasar Legi.

Adjie menambahkan, kali ini perkumpulan Tripusaka didapuk untuk memeriahkan Cap Go Meh di daerah Coyudan.

“Rute perjalanan liong dan barongsai yakni dari pasar Klewer ke barat menyusur jalan Dr Radjiman. Lalu di perempatan Singosaren ke utara sampai tembus di Jalan Slamet Riyadi. Tripusaka juga menyasar hingga Nonongan dan Banjarsari,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Budayawan Tionghoa, Aryanto Wong menjelaskan liong dan barongsai adalah utusan dewa. Sehingga sepanjang jalan dan tempat yang dilalui barongsai dan liong, akan dihindarkan dari malapetaka dan bahaya.

“Liong dan barongsai itu adalah delegator Dewa. Bila liong dan barongsai berkunjung ke suatu tempat, diharapkan tempat tersebut akan menerima berkah dari dewa,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang pemilik toko di sepanjang Jalan. Dr Radjiman, Coyudan, Solo, Agus Sulisman mempercayai dengan memasang angpao yang ditujukan pada barongsai dan liong, maka dirinya akan mendapatkan kelancaran rizki serta keberuntungan.  Biasanya angpao atau fitrah sebagai wujud berbagi rezeki ini dibungkus amplop warna merah dan lantas dipasang di depan pintu masuk toko.

“Angpao ini juga melambangkan harapan dan doa, semoga usaha tambah lancar,” ujar pria yang setiap tahun tak melewatkan tradisi pasang angpao ini.

Meski tidak semua toko memberikan angpao, tampaknya tak menjadi masalah. Sebab yang terpenting  barongsai dan liong itu mampu menghibur masyarakat. Apalagi atraksinya sangat menakjubkan, meliuk-liuk dan meloncat meraih angpao di ketinggian, diiringi berbagai alat musik yang khas. Semakin wah pula, ketika mereka berhasil mendapatkan banyak angpao.

Di sisi lain, persiapan menyambut Cap Go Meh juga dilakukan di  Klenteng Tien Kok Sie Pasar Gede Solo. Staf Humas Klenteng Tien Kok Sie, Lian Hong Siang mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah melakukan persiapan untuk menyambut ritual doa yang akan digelar pada terakhir perayaan imlek.

“Cap itu artinya 10, Go artinya lima dan Meh artinya malam. Jadi setelah Cap Go Meh sudah tidak ada lagi perayaan Imlek,”katanya.