JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo PKL Proliman Ogah ke Notoharjo

PKL Proliman Ogah ke Notoharjo

475
BAGIKAN
TAK KUNJUNG DIPIINDAH - Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) berjualan di Proliman Banjarsari, Solo, Selasa (26/2). Pedagang yang berjualan di daerah tersebut rencananya akan di pindahkan ke Pasar Klitikan Notoharjo. Joglosemar/Abdullah Azzam
TAK KUNJUNG DIPIINDAH – Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) berjualan di Proliman Banjarsari, Solo, Selasa (26/2). Pedagang yang berjualan di daerah tersebut rencananya akan di pindahkan ke Pasar Klitikan Notoharjo. Joglosemar/Abdullah Azzam

BANJARSARI-Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar Proliman Stasiun Balapan, menolak pindah ke Pasar Notoharjo. Alasannya, pasar itu sepi dan lokasinya kurang strategis.

Pantauan Joglosemar, sedikitnya ada 10 PKL yang masih mangkal di trotoar Proliman Balapan. Para pedagang, sebagian besar berjualan aneka macam peralatan elektronik bekas, servis kacamata dan besi-besi tua.

Sardi, (45), salah satu pedagang peralatan elektronik bekas di Proliman Balapan, mengatakan, sehari sebelumnya didatangi sejumlah petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Dia diminta pindah ke Pasar Notoharjo atau Pasar Klithikan Semanggi. Kedatangan Satpol PP itu, menurutnya, sudah yang kedua kalinya, sejak 2011 silam.

”Dulu saya sempat didatangi petugas Satpol PP. Dan kemarin juga didatangi lagi. Minta saya pindah berjualan ke Notoharjo,” ucapnya, Selasa (26/2). Namun, dia menolak pindah. Karena lokasi pasar itu kurang strategis untuk berjualan.

Selain itu, dia merasa, keberadaan PKL di lokasi saat ini, kerap membantu para pengguna kendaraan pribadi yang melintas dari arah timur menuju barat maupun arah lainnya. ”Mayoritas pedagang di sini, sering menolong pengendara sepeda motor yang terjatuh maupun terlibat kecelakaan tunggal. Jadi, memang keberadaan kami di trotoar Proliman Balapan selama ini sangat membantu kelancaran arus lalu lintas dan tidak pernah menyusahkan orang,” katanya.

Dia sendiri, menggantungkan nasibnya dengan berjualan di trotoar Proliman Balapan sejak lima tahun silam. Dia khawatir, jika pindah, akan ditinggalkan banyak pelanggannya. Oleh karena itu, dia berharap, Pemkot Solo lebih mempertimbangkan keberatan PKL. ”Saya rela ditarik retribusi asalkan tetap bisa berjualan di sini,” paparnya.

Ngatijo (65), seorang PKL lainnya, juga mengungkapkan situasi serupa. Dia mengatakan, pada 2010 silam juga pernah didata ulang Dinas Pengelolaan Pasar (DPP). Tapi, tidak ada kelanjutannya lagi.  ”Jika boleh memilih, kami inginnya ditempatkan di Pasar Gilingan yang akan dibangun di depan Terminal Tirtonadi itu ketimbang di Pasar Notoharjo. Kalau dibandingkan, ya lebih strategis yang di Gilingan. Karena berada di pinggir jalan raya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Solo, Sutarjo, menambahkan, teguran yang dilayangkan pada Senin (25/2) lalu itu, sebagai usaha penertiban PKL di tikungan trotoar Proliman Balapan oleh tim gabungan. Intinya, para PKL itu, diminta pindah ke Notoharjo. Fariz Fardianto