Pohon Asem Raksasa Berusia 250 Tahun Dimuseumkan

Pohon Asem Raksasa Berusia 250 Tahun Dimuseumkan

296
DIBERSIHKAN - Petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Solo memotong pohon asem yang tumbang di kawasan Ngarsopura, Solo, Selasa (19/2). 2 pohon asem yang diperkirakan berumur 250 tahun tersebut tumbang diterjang angin kencang pada Rabu (13/2) lalu. Joglosemar/Abdullah Azzam
DIBERSIHKAN – Petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Solo memotong pohon asem yang tumbang di kawasan Ngarsopura, Solo, Selasa (19/2). 2 pohon asem yang diperkirakan berumur 250 tahun tersebut tumbang diterjang angin kencang pada Rabu (13/2) lalu. Joglosemar/Abdullah Azzam

BANJARSARI-Dua pohon asem raksasa di Koridor Ngarsopuro akan dimuseumkan, setelah roboh dihantam angin lisus, pekan lalu. Dua pohon berusia 250 tahun itu, dianggap sebagai penanda cikal bakal berdirinya Ngarsopuro di masa lampau.

Pantauan Joglosemar di lapangan, sejumlah petugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Solo, mulai membersihkan ranting-ranting pohon yang masih berserakan dan mengotori ruas jalan di Ngarsopuro.

Kiswanto, salah satu staf Pertamanan DKP Solo, mengungkapkan, proses pembersihan dua pohon asem tersebut dilakukan dengan mengerahkan dua truk pengangkut sampah dan melibatkan 15 personel DKP. “Pembersihan pohon asem raksasa yang tumbang di Ngarsopuro atau tepatnya depan Kantor Kelurahan Keprabon mulai dikebut hari ini,” katanya, Selasa (19/2).

Dua pohon asem tersebut, menurut Kiswanto, memiliki ketinggian dua meter dengan diameter 1,5 meter. Kiswanto mengaku, hanya diperbolehkan memotong daun dan rantingnya saja. Sedangkan batang utamanya tetap dibiarkan utuh.

Dua pohon asem itu, akan dimuseumkan, mengingat usianya mencapai 250 tahun. ”Maka dari itu, sesuai intruksi Pak Satriyo, Kepala DKP, kami harus membiarkan batang utamanya utuh seperti aslinya,” imbuh dia.

Baca Juga :  Rotary Club Solo Raya Fokus Renovasi Rumah Tak Layak Huni

Selain dua pohon itu, Kiswanto bersama 14 rekan kerjanya sejak tiga hari lalu terus mengevakuasi pohon-pohon yang roboh di seluruh titik strategis Kota Solo. Kiswanto menjelaskan, angin lisus yang melanda Solo pada Rabu pekan lalu telah merobohkan ratusan pohon dan mayoritas berada di Kecamatan Banjarsari.

”Di Banjarsari, memang paling banyak pohon yang roboh. Jika dihitung-hitung, ada sebanyak 25 pohon. Kita sendiri, sudah mulai membersihkan sejak empat hari lalu,” imbuh dia. Selain di Banjarsari, hal yang sama juga dilakukan d Sekarpace dan SMA Warga. Satu lokasi, ada dua hingga tiga pohon yang tumbang.

Kepala DKP Solo, Satriyo Teguh Subroto, memastikan, dua pohon asem raksasa tersebut akan dimuseumkan. Sebab, keberadaannya dianggap menjadi cikal bakal berdirinya kawasan di Ngarsopuro di masa lampau.

Baca Juga :  Rotary Club dan Rotaract Club Sukseskan Vaksinasi MR

”Usianya, sudah sangat tua. Dan yang pasti, kita tidak akan memotong batangnya. Maka, atas masukan dari sejumlah perwakilan masyarakat setempat kita ingin dua pohon itu dimuseumkan saja untuk melestarikan ikon lokal,” tutur Satriyo.

 

Tapi, dia mengaku masih mengkaji lokasi museum yang tepat untuk pohon asem tersebut. ”Kita masih mengkaji lokasi museumnya. Kita masih menunggu Museum Keris selesai dibangun karena Radya Pustaka kami rasa tidak cukup menampung pohon sebesar itu,” terangnya.

Sementara itu, Lurah Keprabon, Rustika, menyebutkan, robohnya pohon raksasa pada Rabu (19/2) pekan lalu membuat paving di kawasan pedestrian, pagar kantor sisi selatan dan satu lampu penerang jalan hancur. ”Untungnya tidak menimpa kantor kami. Pohon asem di depan itu, memang berukuran sangat besar. Jadi, ketika roboh kita yang di dekatnya menjadi sangat waswas,” ujar Rustika.

Fariz Fardianto

 

BAGIKAN