JOGLOSEMAR.CO Foto Polemik Revitalisasi Klewer Meruncing

Polemik Revitalisasi Klewer Meruncing

405

KPPK Bermanuver, HPPK Meradang

AMDAL TENGAH DIGARAP--Pengemudi becak melintas di depan Pasar Klewer, Solo, Senin (10/12). Analisis dampak lingkungan (amdal) revatilasi Pasar Klewer saat ini tengah digarap oleh Pemerintah Kota Solo. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
AMDAL TENGAH DIGARAP–Pengemudi becak melintas di depan Pasar Klewer, Solo, Senin (10/12). Analisis dampak lingkungan (amdal) revatilasi Pasar Klewer saat ini tengah digarap oleh Pemerintah Kota Solo. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

PASAR KLIWON-Polemik pro dan kontra revitalisasi antarkubu pedagang Pasar Klewer meruncing. KPPK bermanuver dengan mengklaim menemui Pemkot Solo untuk mendesak melanjutkan revitalisasi.

Salah satu poin yang dibahas dalam pertemuan itu, adalah soal jaminan kios bagi pedagang usai revitalisasi. Komunitas Pedagang Pasar Klewer (KPPK) juga mendukung wacana Pemkot yang ingin menjadikan para pedagang Pasar Klewer sebagai investor revitalisasi.

Namun, pertemuan KPPK dan Pemkot itu membuat Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) meradang. HPPK menuding langkah KPPK yang mulai membicarakan pembagian kios sebelum revitalisasi terealisasi sebagai langkah tidak fair.

Humas KPPK, Sholahuddin, mengatakan, KPPK minta Pemkot mengembalikan kios seperti semula jika revitalisasi terlaksana. Sebab, ketakutan yang muncul dari pedagang soal revitalisasi, adalah mereka kehilangan jatah kiosnya.

Sedangkan soal dana revitalisasi, KPPK menyambut wacana Pemkot yang sempat ingin menjadikan pedagang Pasar Klewer sebagai investornya. ”Dari awal, Pemkot memang tidak ingin memakai investor. Ya nanti investornya dari pedagang sendiri,” ucapnya, Selasa (26/2).

”Artinya, Pemkot tetap mengusahakan pendanaan dari Pemerintah Pusat. Kekurangannya, bisa meminta iuran kepada pedagang dengan nominal serendah-rendahnya. Intinya, kami minta Pemkot tidak membebani pedagang,” katanya lagi.

KPPK juga mendesak Pemkot menyosialisasikan rencana revitalisasi Pasar Klewer dengan membagikan brosur dari kios ke kios. Sosialisasi itu penting untuk mencerahkan pedagang, bahwa, revitalisasi pasar tidak merugikan mereka.

”Rumor di belakang, semisal pedagang yang punya kios lima akan dapat satu kios. Pedagang yang punya kios 10 akan dapat ganti satu kios. Itu semua bohong. Sehingga pedagang pada takut. Nah, dalam pertemuan itu kami menjelaskan kepada Pemkot, agar tetap mengembalikan kios pedagang seperti semula. Jika terlaksana revitalisasi, pedagang mempunyai lima kios tetap akan dapat lima kios,” katanya.

Adapun, Humas HPPK, Kusbani, berang dengan manuver KPPK yang menemui Pemkot. Pembahasan kios bersama Pemkot yang dilakukan KPPK, katanya, mengindikasikan ada permainan tertentu. ”Ini jelas tidak fair. Pembahasan feasibility study (FS) saja masih perlu dikaji ulang. Kok itu (KPPK) sudah menanyakan pembagian kios. Layout (desain)-nya pasar seperti apa kami belum terima. Kalau masalah kios sudah dibahas, berarti ada hal yang perlu dicurigai,” sebut Kusbani.

HPPK kembali mengkritik kajian FS dan detail engineering design (DED) Pasar Klewer yang diprakarsai Bappeda Pemkot Solo. ”Berbicara revitalisasi tidak hanya ngomongin pembangunan pasar. Dampaknya sosial, ekonomi dan budaya perlu dilihat kembali. Bagaimana dengan nasib pedagang jika revitalisasi, buktinya banyak pasar yang direvitalisasi justru ditinggalkan pedagang,” katanya. Ronald Seger Prabowo

BAGIKAN