JOGLOSEMAR.CO Hiburan Selebritis Putih Abu Buka Mata Lewat Mata Tertutup

Putih Abu Buka Mata Lewat Mata Tertutup

287
BAGIKAN
DISKUSI FILM-Suasana diskusi film Mata Tertutup dengan sejumlah para pelajar Solo di Omah Sinten, Solo, Rabu (5/1). Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Sekitar seratus siswa putih abu-abu dari 40 SMA se-karesidenan Surakarta sharing bareng dan Nonbar bersama dengan pemuka agama, pemain dan produser dari film Mata Tertutup di Cinema Omah Sinten, Rabu (6/1). Film yang diproduseri Garin Nugorho ini memang sudah tak tayang di bioskop komersial. Lantaran sarat nilai dan pesan, Maarif Institute, menggelar roadshow Mata Tertutup di 10 kota. Kota Solo sendiri adalah kota yang ke 9 yang disinggahi, pamungkasnya akan dilaksanakan di Semarang.

Diskusi berlangsung dengan hangat. Banyak para siswa bertanya tentang proses dan hambatan produksi hingga pesan yang diusung dalam film yang pernah menyabet Apresiasi Film Indonsia (AFI) 2012 tersebut.

Fajar Riza Ul Haq, Produser Mata Tertutup dan juga Exsecutive Director Maarif Institute, mengaku memang film ini sepi peminat sewaktu diputar di bioskop. Film ini hanya bertahan 10 hari saja di berbagai bioskop di Indonesia. “Namun jangan salah, film ini kaya akan pengetahuan dan pesan moral yang ada di dalamnya,” ujarnya saat berbincang dengan Joglosemar di sela kegiatan.

Tujuan awal mula pembuatan karya ini, lanjut Fajar, memang bukan untuk ditampilkan di layar lebar. Namun karya ini lebih mengarah dalam pembuatan film dokumenter. Melihat cerita di dalamnya sangat nyata dengan kehidupan saat ini, tak ada salahnya karya ini diperdalam hingga tampil di layar lebar.

“Cerita di dalamnya semua merupakan kisah nyata, sebelum membuat film ini kami melakukan survey dahulu kepada orang – orang yang pernah terlibat dalam radikalisme agama. Kami memang lebih suka menggelar roadshow, karena cenderung lebih dapat menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya. Apa lagi juga diadakan diskusi, tentu penyampaian pesan terasa mudah,” harapnya.

Sementara itu salah seorang pemuka agama, Ustaz Dr. Mutahharun Jiran mengatakan bahwa seharusnya film Mata Tertutup ini untuk perdana tampil di Solo. Mengingat cerita yang terkandung di dalamnya sesuai dengan keadaan kota Solo yang sebenarnya. “Saat ini di kota Solo banyak sekali organisasi yang mengatasnamakan agama terus bermunculan. Perilaku seperti itu jelas sangat menyimpang,” jelasnya.

Pemutaran film ini dilaksanakan dua kali dalam sehari, yakni pagi untuk pelajar atau remaja dan malam hari untuk kalangan umum. “Kami akan berupaya untuk memberikan pengetahuan kepada remaja untuk bisa membentengi diri, agar tidak terpengaruh dengan radikalisasi agama,” ujar Manager Program Maarif Intitute, Khelmy K. Pribadi. Raditya Erwiyanto