JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Ribuan Unggas Mati Mendadak Positif AI

Ribuan Unggas Mati Mendadak Positif AI

535
BAGIKAN
ilustrasi

SRAGEN—Sedikitnya 4.000 unggas jenis itik dan ayam di tiga kecamatan di Kabupaten Sragen mati mendadak dengan hasil tes dinyatakan positif terjangkit virus Avian Influenza (AI) atau flu burung. Badai kematian unggas itu terjadi sudah sejak sepekan lalu dan hingga kini terus meluas dengan jumlah unggas yang mati semakin bertambah.

Serangan sporadis AI itu menyerang unggas di wilayah Desa Celep Kecamatan Kedawung, Desa Cemeng Kecamatan Sambungmacan, dan Desa Pelemgadung Kecamatan Karangmalang. Kematian terbanyak melanda unggas jenis itik di Desa Celep, Kecamatan Kedawung yang mencapai 3.400 ekor.

Informasi yang dihimpun, wabah AI terdeteksi pertama kali di Dukuh Kedung Kandang, Desa Cemeng, Sambungmacan. Dalam tiga hari terakhir, sebanyak 400 ekor itik petelur milik dua peternak setempat mati mendadak dengan gejala kejang-kejang. Hasil rapid test (tes cepat) dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) setempat menyatakan kematian itik di wilayah tersebut positif akibat AI.

“Tidak ada tanda-tanda atau gejala sakit. Tahu-tahu leher itik-itik saya itu pada nyengkerek, lalu kejang-kejang dan langsung mati. Dalam dua hari saja sudah ada 300 ekor yang mati. Karena takut semakin banyak yang mati, yang 600 ekor akhirnya saya ungsikan ke luar desa dulu,” ujar Triyono, salah satu peternak itik di Dukuh Kedung Kandang.

Selain milik Triyono, kematian serupa juga melanda 100-an ekor itik milik peternak tetangganya yakni Giyono. Dalam waktu hampir bersamaan, laporan kematian yang sama juga datang dari wilayah Desa Celep, Kecamatan Kedawung. Bahkan, jumlah itik yang mati mendadak di sentra peternakan itik ini mencapai angka 3.400 ekor. Mayoritas juga mati dengan gejala kejang yang didahului berkurangnya nafsu makan pada itik.

Sementara, di wilayah Desa Pelemgadung, sejumlah peternak ayam dan itik juga resah karena ternak mereka mati mendadak sejak Sabtu (9/2). Kematian unggas terjadi di beberapa dukuh dengan total unggas yang mati mencapai 300-an ekor. Rinciannya, 125 ekor di Dukuh Gumantar dan 100-an ekor di Dukuh Karangtanjung.

Salah satu peternak, Sunarso (57), warga Dukuh Gumantar RT 7 RW IV mengatakan ada 125 ekor itik, ayam, dan entok miliknya yang mati mendadak sejak Sabtu (9/2) hingga Minggu (10/2). Mayoritas mati juga dengan gejala yang sama yakni kejang-kejang dan tak berselang lama langsung mati. “Yang mati rata-rata umur dua sampai tiga bulan. Yang kami khawatirkan, kematiannya tiap hari semakin bertambah banyak,” ujarnya, Minggu (9/2).

Senada, Sariman (42), peternak asal Dukuh Karangtanjung RT 6, menuturkan sebelum puluhan itiknya mati, ia sudah menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk membeli obat-obatan guna melakukan pencegahan. Namun upayanya sia-sia dan bahkan kini 200-an ekor itik yang masih tersisa, kondisinya juga mengkhawatirkan. “Maka dari itu kami sangat berharap dinas segera turun tangan. Sebab kalau sampai mati semua, kerugian kami akan semakin besar,” urainya.

Terpisah, Kabid Kesehatan Hewan Disnakkan Sragen, Mulyani membenarkan adanya kasus kematian unggas di sejumlah wilayah tersebut. Untuk kasus di Cemeng, Sambungmacan dan Celep, Kedawung memang sudah dilakukan rapid test dengan hasil positif AI, sedang di Pelemgadung negatif. Guna mencegah meluasnya wabah, pihaknya sudah bergerak dengan menerjunkan tim untuk melakukan penyemprotan desinfektan dan biosekuriti bagi ternak yang masih tersisa. Pihaknya juga langsung menginstruksikan agar ternak yang sudah terjangkit dikandangkan dan dipisahkan dari ternak lain yang sehat.

Rapid test memang positif, tapi untuk kepastiannya kami tetap menunggu hasil lab dari sampel yang kami kirim ke BB Wates Yogyakarta. Kami mengimbau kalau ada itik yang terjangkit jangan dikeluarkan atau diangon dulu. Lalu kalau ada yang mati jangan dibuang ke sungai. Bangkainya sebaiknya dibakar dan dikubur,” tegasnya. Wardoyo