JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo RSUD Solo Rugi Miliaran Rupiah

RSUD Solo Rugi Miliaran Rupiah

660
PEMBENTUKAN BLUD – Pekerja membersihkan kaca di lantai 2 RSUD Ngipang, Solo, Senin (11/2). Pembentukan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) bagi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banjarsari, bakal terwujud pada April 2013 mendatang. Joglosemar/Abdullah Azzam

BANJARSARI- Direktur RSUD Solo, Sumartono Kardjo, mengklaim, rumah sakit itu merugi miliaran rupiah. Dalam setahun, pendapatan RSUD Rp 2 miliar, tapi biaya operasional  mencapai Rp 6 miliar.

“Pendapatan Rp 2 miliar itu, di luar biaya operasional. Kalau dihitung dengan kebutuhan operasional, RSUD masih merugi banyak. Mengingat biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 6 miliar. Misalnya, biaya untuk gaji 90 pegawai sebesar Rp 3 miliar,” katanya, Senin (11/2).

Kata Sumartono, jumlah kunjungan pasien ke RSUD terus menyusut. Tiap bulan, katanya, penyusutan kunjungan pasien mencapai 30 persen.  Penyebabnya, karena berbagai hal yang sangat kompleks. “Seperti akses transportasi yang kurang memadai, juga dipicu minimnya tenaga medis. Juga ada perubahan layanan seperti mewajibkan tiap pasien yang berobat menyertakan rujukan dari Puskesmas terdekat menjadi pemicunya,” ujarnya.

Bos RSUD itu, berharap banyak dengan pembentukan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang ditarget April nanti. Dengan BLUD itu, pengelola rumah sakit bisa leluasa mengambil kebijakan. Seperti mengambil utang untuk pengadaan peralatan medis maupun penambahan bangunan.

”Tentunya, dengan persetujuan Walikota Solo,” katanya. Namun, dengan pembentukan BLUD, Pemkot wajib memberikan subsidi untuk peningkatan layanan dasar bagi pasien.”

Untuk mengejar target pembentukan BLUD itu, RSUD harus merampungkan laporan keuangan maksimal 15 Februari nanti. Sumartono mengaku mengalami kesulitan dalam menyusun laporan keuangan pokok dan rencana keuangan untuk RSUD yang dia pimpin itu.

Penyebabnya, ada beberapa perubahan dalam perencanaan keuangan yang semula disusun untuk  2011-2016 menjadi 2012-2016. ”Jadi, terpaksa harus diubah lagi. Itu sebenarnya jadi kendala kami. Tapi, untuk menyelesaikannya, kami membentuk tim peneliti dari sejumlah profesi asal Kota Semarang,” ujarnya.

Penyusunan laporan keuangan itu, termasuk dalam salah satu rencana strategis RSUD untuk menjadi BLUD. Kata Sumartono, ada sedikitnya enam dokumen penting yang wajib disusun. Beberapa di antaranya, dokumen peningkatan layanan, surat standar pelayanan minimal, dan laporan audit independen. ”Ketiga dokumen itu sudah kami selesaikan. Yang terakhir ya tinggal laporan keuangan pokok dan rencana keuangannya,” katanya.

Menurutnya, tim peneliti sengaja diandalkan untuk mempercepat penyelesaian penyusunan dokumen keuangan, agar rampung 15 Februari nanti. Jika penyusunan dokumen itu berjalan lancar, dia optimistis, pembentukan BLUD bisa lebih cepat dari targetnya. ”BLUD yang dibentuk, bisa memakai sistem fleksibilitas penuh maupun tak penuh,” imbuh dia. Fariz Fardianto

BAGIKAN